MAKE A RESERVATION
Home > Articles & Publication > Antara Aku, Rabbku, dan Bidanku

Antara Aku, Rabbku, dan Bidanku

by. Admin
30 September 2021
Antara Aku, Rabbku, dan Bidanku

Kisah persalinan dengan bb 4,16kg, perineum utuh.

Reposted from @aishanafi

Ini adalah kisah melahirkan anak ke-3, yang sangat tidak aku inginkan pada awalnya. Tetapi Allah berkehendak lain. Skenario Allah pasti lebih baik & MasyaAllah atas ijin Allah saya & keluarga diberi kekuatan melaluinya.

Bermula dari bidan saya menganjurkan PCR sebagai syarat melahirkan. Waktu itu H-4 HPL. Berangkatlah saya PCR & Alhamdulillah hasilnya negatif namun qodarullah hasil suami positif.

Jika ditarik mundur lagi, H-9 suami sudah bergejala. Saya yang curiga karena tidak seperti biasanya sakitnya sampai merintih banget nget nget. Saya putuskan pisah kamar & semua anggota rumah wajib pakai masker.

Singkat cerita saya ditawarkan keluarga mojo @faiqoh.s untuk "ngungsi" di rumahnya. Dengan segala pertimbangan, berangkatlah saya & anak-anak ke Surabaya. Melahirkannya gimana? Saya sudah pasrah kalau misal tidak berjodoh dengan bidan kesayangan.

HPL pun sudah terlewati, hari demi hari saya lalui dengan gamang. Janin di perut apa kabar? Air ketuban keruh ngga ya? Masih ada harapan normal ngga ya? Wuoh rasanya campur aduk.

Alhamdulillah semenjak saya "ngungsi" di keluarga mojo, anak-anaj beradaptasi dengan cepat. Pak suami pun Alhamdulillah sudah dihandle oleh teman-temannya. Tinggal saya yang harus fokus & tenang dengan janin yang tak kunjung menunjukkan tanda-tanda lahirnya.

Tanggal 13 Dzulhijjah, Maghrib, kontraksi sudah terasa intens, tapi maju mundur untuk berangkat ke bidan karena ragu apakah ini kontraksi asli atau palsu. Setelah saya fokuskan diri & insting, berangkatlah saya jam 20.00 ke Bidan Wina naik grab sendirian. Selama perjalanan seingat saya kontraksi menyerang selama 3x.

Sampai di klinik saya disambut Bidan Dela, observasi & mulai tindakan "kasih sayang" dari bidan. Alhamdulillah di kesempatan kali itu saya diberi kekuatan untuk fokus mendengarkan arahan bidan untuk selalu tarik nafas, tenang, karena badan saya menggigil menahan sakit.

Ketika ada dorongan dari janin saya langsung lapor ke Bidan Dela kalau ada rasa ingin mengejan. Dengan sigap beliau mengarahkan untuk terus tarik nafas sambil ikhtiar memijat perineum dengan zaitun dan kompres air hangat.

Alhamdulillah jam 00.30 terlahir putri kami dengan normal dan bebas jahitan (finally)

Masya Allah Tabarakallah.

Read other articles & publications:
MASA REMAJA / PUBERTAS, ADAKAH? (MENGAPA ISLAM TIDAK MENGGUNAKAN KATA REMAJA)
- Ustadz Budi Ashari, Lc - Saya yaki...
SPA PUTING
Oleh : Bunda Arit Widowati, Founder Sentra...
PENGGUNAAN NECK RING PADA SPA BAYI
Beberapa waktu yang lalu viral tentang per...