MAKE A RESERVATION
Home > Articles & Publication > Sabar Adalah Bekal, Ikhtiar-Doa Adalah Senjata dan Tawakal adalah Kekuatan

Sabar Adalah Bekal, Ikhtiar-Doa Adalah Senjata dan Tawakal adalah Kekuatan

by. Admin
24 July 2017
Sabar Adalah Bekal, Ikhtiar-Doa Adalah Senjata dan Tawakal adalah Kekuatan

Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Bismillahirrohmanirrokhim..
Kehamilan dan persalinan adalah sebuah ledakan keajaiban di setiap kejadian dan prosesnya. Kejadian atas sel sperma dengan ukurannya yang hanya 0,005 mm lalu bertemu dengan sel telur dengan ukuran 0,1 mm kemudian menyatu dan terus menerus membelah diri menjadi bakal-bakal organ dan bagian tubuh manusia yang akan terus berkembang menjadi besar.

“……Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya….”. Al Hajj 5.

Kombinasi variasi genetik dari Ayah dan Ibu yang membawa karakter individual dengan persatuan tertentu memiliki peluang 1 : 300.000.000.000.000. Betapa banyaknya kemungkinan variasi genetic itu. Variasi tersebut berdasarkan bagaimana bentuk wajah, jenis kelamin, warna kulit, warna rambut, kecenderungan untuk menjadi besar/kecil, kuat atau lemah dan bahkan karakter dasar sang bayi.
Selalu menjadi inspirasi bagi saya atas betapa uniknya manusia dalam menghadapi ujian sebagai hamba tak berdaya, sekaligus menjadi bukti kekuasaan Allah yang Maha Pemurah. Apa yang telah saya hadapi dalam setiap pendampingan semakin menunjukkan dan telah jelaslah terbukti teori-teori persalinan dalam Al- Qur’an adalah teori terbaik yang telah ada untuk sepanjang jaman.

Ini adalah kisah persalinan Bunda T untuk kali keduanya dalam pendampingan saya di rumah beliau. Sebelumnya 1,5 tahun yang lalu saya juga berjodoh dengan pendampingan persalinan putra kedua Bunda T. Bunda T bekerja di Rumah Sakit swasta yang cukup besar. Beliau paham dengan baik dunia medis tentang persalinan. Riwayat persalinan putri pertama lahir di tempat beliau bekerja. Sakitnya episiotomi yang dialami saat itu membuat trauma dirinya. Selain itu, plasenta tertanam cukup kuat dalam rahim sehingga keluar lebih lama dari persalinan pada umumnya. Oleh karena itu nakes mengambil keputusan untuk mengeluarkan secara manual (tangan dimasukkan) plasenta tersebut dalam rahim. Dimana protap medis untuk keluarnya plasenta adalah paling lama 30 menit setelah bayi lahir. Hal itupun juga menambah trauma Bunda T.

Pada persalinan putra keduanya, beliau aktif belajar dan memberdayakan diri. Salah satu proses memperdayakan diri yang harus dilalui adalah mencari provider yang mendukung persalinan lembut untuk dirinya dan bayinya. Saya masih ingat first contact dengan beliau via WA dengan menanyakan pengalaman saya dalam pendampingan persalinan metode yang Bunda T maksudkan.

“Maaf mau tanya, Mbak Wina sudah mendampingi persalinan dengan metode Lotus berapa kali?” tanya Bunda T.

Saya tidak langsung menjawab tetapi hanya mengirimkan beberapa foto pasien-pasien yang telah saya dampingi di rumah dengan berbagai macam metode.

“Tidak banyak Bu, hanya beberapa foto yang saya kirimkan di atas..” tulis saya

“Wah, berarti Mbak Wina sudah banyak mendampingi persalinan home birth yaa…Semoga saya dan bayi saya berjodoh dengan Mbak wina, aamiin..” kata Bunda T

Selang beberapa waktu ditindak lanjuti dengan pertemuan keluarga besar untuk menyamakan persepsi dalam sesi penyuluhan setelah beberapa kali pertemuan bersama suami Bunda T (Pak F).

Persalinan putra kedua waktu itu post date (lebih bulan), lingkungan yang semakin sering bertanya tentang kapan melahirkan membuat Bunda T cukup resah. Serta dokter SpOG waktu itu juga langsung menyarankan Bunda T untuk masuk RS agar segera diinduksi. Dalam kondisi tersebut Bunda T menenangkan diri dengan lebih aktif berkomunikasi dengan saya, Sayapun menyarankan untuk menghindari dulu kontak dengan lingkungan sekitar, banyak berdoa, bersedekah dan aktif melakukan induksi alami. Hari persalinanpun tiba dengan ditandai kontraksi yang semakin sering. Pada pukul 22.00 saya datang karena Bunda T dan suami merasa khawatir. Namun setelah ditunggu pembukaan 8 itu baru terjadi setelah subuh. Lalu kami segera memutuskan bunda T untuk memasuki kolam yang telah dipersiapkan suaminya.

Beberapa saat kemudian Bunda T merasakan kontraksi semakin kuat dan sayapun melakukan pemeriksaan dalam di air. Bayi sudah berada di dasar vagina. Pada saat saya membutuhkan bantuan Pak F untuk mengatur posisi Bunda T namun justru saya melihat Pak F seperti sibuk sendiri, dan ternyata saya baru sadar bahwa Pak F sedang menambal kolam yang bocor di luar perkiraan kami. Melihat perjuangan Pak F saat pendampingan membuat saya salut. Pak F sibuk menambal kolam sambil meneriaki dengan lembut, "Ayo nda...semangaaat!"

Beliau yang mondar-mandir menambah air hangat, mempertahankan air tetap bersih, membantu posisi, menyemangati istri dan lain sebagainya. Satu jam lebih setelah bayi lahir, plasenta keluar secara alami. Alhamdulillah trauma berulangpun bisa terhindari. Bunda T dan Pak F sepakat metode lotus birth untuk perawatan talipusat dan plasenta bayinya. Setelah semua selesai kami bertiga berbincang bersama dan mengevaluasi persalinan yang baru saja terjadi.

Saya berkata, “Tadi itu saya mikir, Pak F ini sedang apa yaa..kok sibuk pegang-pegang kolam? Lah kok ternyata kolamnya bocor…hehehe..”

“Iya Mbak, tadi itu saya sibuk nambah-nambal kolam, la kok sulit..” Jawab Pak F sambil tertawa bersama Bunda T.

Pada persalinan putri ketiga, Bunda T menghubungi saya, saat itu umur kehamilan menginjak 3 bulan dengan HPL 21 Februari 2016. Sejak saat itu Bunda T dan Pak F rajin mengikuti kelas prenatal yang saya adakan dan bertemu dengan pasangan suami istri yang lain. Kelas tersebut berkerjasama dengan Yayasan Askar Ramadhan dan diadakan di Griya Askar, Jalan Pagesangan Asri III No. 21, Surabaya. Bunda T dan Pak F ternyata juga donatur Yayasan Askar Ramadhan.

Tanggal 31 Januari 2016, Home Visite Pertama

Kami membicarakan birthplan yang telah dikirim jauh hari sebelumnya. Bunda T masih menginginkan metode water birth tetapi perawatan plasenta berbeda dengan yang sebelumnya, yaitu burning cord. Tidak banyak wanita yang paham mengenai metode water birth ini. Bunda T sudah merasakan kenyamanan dengan metode ini, oleh karena itu beliau ingin merasakan kembali kenyamanan tersebut. Tekhnik pengurangan rasa nyeri adalah menggunakan terapi panas/dingin dan water birth menggunakan air hangat yang temperaturnya disesuaikan dengan adaptasi suhu bayi baru lahir. Saat ibu merasakan kontraksi yang bertambah kuat lalu memasuki air yang hangat akan membuat otot-otot tubuh menjadi relaks maka sinyal respon nyeri yang dikirimkan ke otak menjadi berkurang. Serta saat bayi keluar dari jalan lahir, akan lebih tenang karena merasakan dunia yang sama saat ia berada di dalam Rahim. Hal itu adalah beberapa keuntungan metode water birth yang diutarakan Bunda T.

Saat kunjungan tersebut, kami melakukan refresh tentang persalinan, evaluasi persalinan lalu dan penanganan kegawatan. Kami sudah mencatat bahwa kemungkinan tantangan yang sama akan terulang yaitu post date dan kelahiran plasenta yang cukup lama. Rencana untuk menghadapi tantangan tersebut adalah dengan melakukan induksi alami, relaksasi dan mengkonsumsi nutrisi yang mendukung untuk meningkatkan oksitosin alami dalam tubuh, yaitu kurma.

Tanggal 08 Februari 2016
Bunda T mengirimkan pesan ke saya bahwa kontraksinya sudah lebih sering daripada biasanya namun durasinya masih sebentar. Kemudian beliau juga mengatakan masih aktif mengkonsumsi kurma, pepaya mengkal, kiwi dan habbats.

Tanggal 09 Februari 2016
Bunda T mengabarkan masih mengalami kontraksi yang sama disertai sensasi menekan ke bawah sehingga vagina terasa senut-senut.

Tanggal 13 Februari 2016
Bunda T melaporkan bahwa sudah melakukan USG lagi dengan hasil keadaan bayi yang baik.
“Perkiraan 2,9 kg Mbak, belum disaranin NST (rekam jantung janin) karena saya majukan HPHT saya jadi menurut hitungan dokter sekarang masih 36 week makanya santai-santai saja. Kalau dulu bilang 40 week sudah langsung disuruh induksi.” ujar Bunda T.

Tanggal 15 Februari 2016
Saya bertanya tentang keadaan Bunda T, beliau mengabarkan bahwa sedang mengalami gangguan saluran pencernaan. Serta menghentikan mengkonsumsi papaya mengkal karena dirasa penyebab dari diare Bunda T. sewaktu kehamilan putra keduanya, papaya mengkal rutin dikonsumsi sebagai salah satu induksi alami namun tidak berdampak negatif bagi saluran pencernaan. Kontraksi seperti biasanya pun masih berlangsung beberapa hari.

Tanggal 27 Februari 2016
Saya ada janji ketemu untuk Home Visite yang kedua, namun Allah belum mengijinkan karena saya mengalami kecelakaan yang membuat aktifitas saya terbatas. Sayapun mengabari Bunda T untuk membatalkan home visitenya. Beliau menerima pembatalan ini dengan baik walau hati sangat resah oleh kekhawatiran dari orang tua beliau yang ingin ditenangkan oleh saya akan persalinan yang tak kunjung datang. Bunda T berdoa kepada Allah dan berkomunikasi dengan bayi untuk launching pada saat saya sudah pulih saja.

Tanggal 02 Maret 2016, Home Visite Kedua
Saya melakukan pemeriksaan dalam atas keinginan Pak F meskipun menurut saya belum perlu karena tidak ada indikasi. Kondisi saat itu belum ada pembukaan namun mulut Rahim sudah lunak. Saya menenangkan Bunda T dan Pak F bahwa memang persalinan itu berbeda-beda dan persalinan kali ini diawali dengan pelunakan dahulu sebelum adanya pembukaan. Mendapat keterangan tersebut Bunda T dan Pak F merasa lega dan optimis.

Tanggal 04 Maret 2016, Pukul 17.26
Bunda T mengatakan bahwa kontraksi bertambah, mulai dari perut hingga menembus ke tulang belakang, namun durasi belum lama. Saya memberikan response positif akan hal itu dengan mengatakan “Alhamdulillah, berarti semakin ada kemajuan”. Mengetahui hal itu Bunda T semakin semangat dan berdoa semoga bisa melahirkan weekend ini.

Sabtu, Tanggal 05 Maret 2016,

Pukul 04.33
Bunda T memberi kabar bahwa kontraksi sudah mulai bagus sejak jam 2 pagi namun belum ada bloody show. Saat itu saya masih dinas pagi.

Pukul 16.15
Bunda T melaporkan bahwa kontraksi terjadi setiap 10 menit sekali. Aktifitas yang dilakukan hanya duduk di birthing ball dan jalan sedikit-sedikit serta masih rutin mengkonsumsi kurma yang banyak.

Pukul 21.06
Kontraksi terjadi tiap 6-8 menit dengan durasi lebih dari 1 menit. Bunda T sudah merasakan ada dorongan yang kuat di bagian vagina. Beliau menginginkan saya untuk segera hadir malam itu juga. Tapi waktu itu, saya masih ingin menunda dengan melakukan observasi via Wa dahulu karena belum ada tanda pengeluaran lendir darah. Sementara Bunda T tetap meminta saya untuk segera datang berdasarkan insting beliau.

Pukul 22.00
Tibalah saya di rumah beliau. Langsung menuju kamar dan melihat Bunda T tidur miring ke kiri sambil menahan nyerinya kontraksi, ketika saya datang Bunda T merasakan adanya cairan yang keluar. Saya melakukan pemeriksaan dalam dengan hasil pembukaan 5, penipisan 50 persen, ketuban sudah merembes. Namun jalan lahir sudah sangat lunak. Hal itu membuat saya optimis bahwa proses pembukaan akan berlangsung lebih cepat. Sementara itu Pak F sedang mempersiapkan kolam untuk proses persalinan dan saya sendiri mempersiapkan peralatan dengan cepat. Setelah saya melakukan endorphine massage kepada Bunda T, tidak lama kemudian Bunda T mengatakan seperti ada sesuatu yang mendorong ke luar perineum.

Pukul 22.35
“Aduh Mbak…ini sudah kayak ada yang mendorong-dorong!” Kata Bunda T
Saya melakukan pemeriksaan dalam, hasilnya kepala bayi sudah di bagian dasar perineum.

“Wah cepat sekali! Alhamdulillah..” Pikir saya

Lalu saya meminta Bunda T untuk segera masuk ke dalam kolam yang sudah dipersiapkan Pak F. Waktu itu memang agak sedikit terhambat karena saya menunggu kesiapan Bunda T untuk bangun.

“Sebentar…sebentar mbak wina…” Ujar Bunda T sambil mengatur pernafasan dan menahan bayi agar tidak buru-buru keluar.

Lalu ibunda Bunda T membantu memapah dan saya mengontrol pemantauan kepala bayi sambil memapah di bagian lainnya. Saat itu Pak F mengatakan air hangatnya kurang, tetapi pada malam itu udaranya sedang hangat dan saya memutuskan untuk segera memakainya. Terlihat Bunda T lebih tenang di banding persalinan sebelumnya. Tidak ada teriakan histeris bahkan rintihan sekalipun, beliau mengatur nafas dengan perlahan-lahan dan teratur sambil terus mengucapkan doa-doa.

“Hanya Allah sebaik-baiknya Penolong..” salah satu doa yang diucapkan Bunda T dari sekian banyak doa.

Selang beberapa menit saat Bunda T memasuki air terlihat kepala bayi perlahan bergerak keluar kemudian disusul dengan tangan dan bagian tubuh mungil lain dengan lembutnya. Setelah itu saya langsung mengangkat bayi dari dalam air, terlihat bayi dengan warna kulit merah, sehat serta ia langsung bernafas secara lembut dan alami. Serempak kami mengucap syukur kepada Allah sambil mendekapkan bayi ke pelukan Bunda T. Tidak lupa saya menyapa sang bayi, “Assalamualaikum..” Jam 22.45 bayi perempuan, MasyaAllah cantik, sehat dan luar biasa tenangnya.

Separuh perjalanan telah dilalui segera kami bersiap untuk keluarnya plasenta. Fokus kami saat itu adalah untuk mempertahankan kuatnya kontraksi dengan meminta Bunda T mengkonsumsi kurma, menyusui bayinya dan mendapatkan sentuhan kasih sayang dari suami untuk menimbulkan oksitosin alami. 15 menit kemudian perlahan sebagian besar plasenta telah keluar, masih ada yang tersisa di bagian dalam, namun saya tidak melakukan paksaan plasenta untuk segera keluar dan bersiap jika ada perdarahan. Setelah menunggu sampai 45 menit kami memutuskan untuk keluar kolam dan menunggu kelahiran plasenta secara utuh. Dengan total waktu lebih dari 1 jam sisa plasenta tersebut keluar sedikit demi sedikit sampai akhirnya keluar secara sempurna.

QS. Al Lail ayat 4 : “Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.”

Dengan datangnya kontraksi kurang dari 1 bulan lamanya dan dengan melalui usaha yang bermacam-macam, akhirnya Allah SWT memberi kemudahan dengan cepatnya proses persalinan serta kebahagiaan yang tiada tara. Selamat datang ananda Almahyra Nisya Anugrah, semoga menjadi penyejuk jiwa bagi orang tua, berbakti dan sholeha yaa nduuk!. Barokalloh untuk Bunda T dan Pak F.

-Bidan Wina Natural Birth care-

Read other articles & publications:
MASA REMAJA / PUBERTAS, ADAKAH? (MENGAPA ISLAM TIDAK MENGGUNAKAN KATA REMAJA)
- Ustadz Budi Ashari, Lc - Saya yaki...
SPA PUTING
Oleh : Bunda Arit Widowati, Founder Sentra...
PENGGUNAAN NECK RING PADA SPA BAYI
Beberapa waktu yang lalu viral tentang per...