MAKE A RESERVATION
Home > Articles & Publication > ASALKU TERGUGAH, AWAL MULA HIJRAH KE DUNIAMU

ASALKU TERGUGAH, AWAL MULA HIJRAH KE DUNIAMU

by. Admin
24 July 2017
ASALKU TERGUGAH, AWAL MULA HIJRAH KE DUNIAMU

Bismillahirrohmanirrohim..

Tentang rasa ini, sungguh amat istimewa. Mencintai karakter sejati pendamping persalinan alami telah mengakar kuat dalam lubuk jiwa ini. Tidak banyak yang tahu bagaimana perjuangan yang telah saya alami untuk mempertahankan prinsip ini. Suka, canda, tawa serta lega, yah tentu saja. Saat melihat bayi lahir dengan sehat dipelukan sang bundanya yang juga sehat. Tetapi tak jarang pula berdebar-debar, khawatir, sedih bahkan menangis tersedu-sedu saat persalinan itu tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Kenangan pahit akan selalu diingat hanya sebagai pelajaran berharga yang menjadikan diri ini berupaya untuk lebih baik. Seperti halnya kenangan menyedihkan dalam pendampingan persalinan bagi saya adalah saat merujuk pasien beberapa tahun yang lalu. Bayi yang tak mau jua lahir dalam penantian 12 jam pembukaan lengkap, Keluarga pasien yang belum siap teredukasi menambah kepanikan dalam batin. Saya harap cukup sekali pengalaman pahit, sepahit daun jati. Merujuk dengan dimarahi ayah dan kakak pasien yang panik, emosi dan belum teredukasi. Mereka tidak mengerti edukasi apa yang telah saya berikan dan disepakati dengan Sang Ibu. Bahwa saya sudah berusaha semaksimal mungkin mempertahankan kesejahteraan ibu dan bayinya. Namun apalah yang telah saya dapatkan..? cacian meremehkan kinerja saya selama sehari semalam. Meskipun pada akhirnya ucapan terima kasih itupun datang karena melihat bayi lahir dengan sehat dan selamat di tempat rujukan bedah sesar dengan indikasi yang benar. Seperti paku yang tertancap di papan kayu masih berbekas lubang walau paku dicabut, kata-kata yang keluar itu terlanjur menyakiti. Hanya bisa saya balas dengan senyuman professional.
Sepulang dari sana tak kuasa menahan air mata bercucuran, berteriak melepaskan beban serta berkata pada suami, “Saya akan berhenti dari persalinan home birth!”. Suami saya hanya bisa diam, memeluk lalu berkata, “iya, terserah saja..”, berusaha menenangkan.

Hari-hari berganti, jiwa ini tetap saja terpanggil. Muram sudah terlupakan, menyambut pasien home-natural birth yang menanti bergantian. Suami dan kakak-kakak paham akan karakter saya yang keras, walau terjatuh akan segera bangkit. Dengan bekal medis yang senantiasa saya update tak jarang memunculkan beda pendapat. Namun saya percaya hanya kepada satu-satunya penolong dan pelindung, yaitu Allah SWT.

Banyak sekali pertanyaan, “Adakah Bidan seperti Anda di…(berbagai nama tempat)?”

Bagi saya menjawab pertanyaan itu tidaklah mudah, karena konsep “Persalinan Alami” masing-masing orang bisa saja berbeda. Saya tidak ingin dianggap menjerumuskan seseorang terhadap rekomendasi yang tidak relevan. Bagi saya persalinan alami tidak hanya dapat melahirkan pervaginam (lahir lewat vagina), namun mengutamakan fungsi fisiologis seluruh anatomi tubuh wanita beserta hormonnya sesuai dengan ayat-ayat cinta dari Allah Azza wa Jalla untuk manusia tentang penciptaan dan persalinan itu sendiri.

Saya tidak mudah melakukan episiotomy, bagi saya luka robekan yang sengaja dibuat dan beraturan itu akan berdampak trauma yang mendalam pada pasien. Sedangkan, luka robekan alami walau tidak beraturan merupakan seni tersendiri bagi saya. Teringat bahwa awal saya belajar menjahit perineum merupakan salah satu usaha terkeras dalam hidup saya. keringat bercucuran saat menjahit, punggung akan terasa amat sakit karena proses belajar merangkai bagian satu ke bagian lain yang cukup lama. Semakin saya sering menyambungkan luka robekan alami yang tidak beraturan maka saya akan semakin mahir menjahit dan membuatnya rapi kembali dengan mudah. Berbeda dengan luka robekan yang dibuat dengan gunting bukan? Maka penjahitan akan lebih mudah bagi tenaga kesehatan karena pola yang akan dijahit terlihat dengan jelas.

Saya tidak mudah memberikan suntikan oksitosin, baik mengenai protap pengeluaran plasenta pada kala 3 atau bahkan mengenai induksi. Tentu saja dalam persiapan pendampingan saya selalu menyediakan oksitosin dan obat-alat emergensi lainnya, namun sampai saat inipun saya merasa sangat berterimakasih kepada Allah SWT karena obat-obatan tersebut tidak pernah saya berikan kepada pasien home birth. Hingga akhirnya terus saya ganti karena mendekati expired. Lagi-lagi soal prinsip, saya sangat percaya akan keberadaan penciptaan sempurna dari Allah SWT terhadap tubuh wanita. Hormone oksitosin alami dalam tubuh sudah dirancang dengan kuat. Ibarat seekor ikan dan pancingan, hormone oksitosin akan aktif dan kuat bila terdapat rangsangan cinta, kasih sayang serta kepercayaan diri. Perlu seni untuk ini karena yang saya tangani ini bukanlah mesin robot.

Roda kehidupan yang terus berjalan berdampingan dengan orang-orang yang berjasa. Mereka dua insan yang menjaga saya, mengenalkan dan membimbing saya menuju jalan dakwah. Mereka adalah Kakak dan kakak ipar perempuan. Pasangan yang pertama kali mengenalkan saya dunia natural-homebirth.

Flashback kisah persalinan anak ketiga mereka, Ramadhan kisaran tahun 2012. Saat itu saya sudah bekerja di rumah sakit, masih dalam lingkungan yang terkotak dengan medis murni. Apakah itu gentle Birth? Bahkan itu saja saya tidak tahu.
Kedua kakak saya mencari ke berbagai tempat bidan praktek yang bersedia mendampingi persalinan dirumah dengan gentle-lotus birth namun hasil yang didapatkan selalu nihil. Ditolak kesana dan kesini dan pilihan terakhir mereka adalah saya. Berkali-kali saya menolak dengan berbagai sudut pandang alasan medis, yaitu resiko perdarahan hebat pada ibunya pada persalinan anak lebih dari 2 dan teman-teman sayapun berpendapat demikian.

Tak patah arang, kakak laki-laki saya berkata, “Jika pada akhirnya Mbak Aritmu meninggal saat persalinan, aku ikhlas. Tidak akan menyalahkanmu bahkan menuntutmu..”

Terasa aliran darah mengalir keseluruh tubuh membuat bergetar takjub sehingga tak kuasa menolak untuk kesekian kalinya. Setelah itu saya belajar dengan singkat, saat persalinan tibapun saya masih disodori video persalinan alami dan burning cord oleh kakak zain walau saat itu juga saya masih menyempatkan diri menonton drama korea sebagai selingan. ^.^. Terimakasih banyak Kak, semoga kita diteguhkan untuk menapaki jalan dakwah di bidang masing-masing hingga mengantar kita ke Jannah-Nya.

Pada kelahiran keponakan chubby saya yang kelima dari mereka. Menjelang HPL, selang satu minggu saya selalu mampir ke rumah mereka sekedar mengecek denyut jantung dan perlengkapan persalinan. Tepat 3 hari sebelum hari H itu datang, tekanan darah kakak ipar tinggi yaitu 140/90 tetapi tidak ada tanda-tanda preeklamsia serta denyut jantung janin yang tinggi pula 174x/menit. Segera saat itu kami langsung menerapkan posisi dan relaksasi untuk memperlancar peredaran darah ke janin sehingga asupan oksigen dapat maksimal. Dan syukur Alhamdulillah beberapa menit sesudahnya DJJ kembali normal.

Tanggal 3 januari 2017 Jam 02.00

Biasanya saya bangun menunggu alarm berbunyi pada pukul 03.00 untuk sholat lail dan sekaligus menunggu shubuh. Namun tiba-tiba saya terbangun dan tidak ingin melanjutkan tidur walau sebentar. Hingga saya memutuskan untuk sholat saja. Dalam hening malam itu hati ini resah, memikirkan perlengkapan apa saja yang kurang untuk persalinan kakak ipar. Seusai sholat saya sempatkan untuk mengecek hp dan saya langsung membuka chat dari kakak ipar, kakak memberitahukan bahwa ia mengalami rembesan ketuban dengan kontraksi selang 8-15 menitan.

Tanggal 3 januari 2017 Jam 05.30

Sesampainya disana saya melihat kakak ipar tidur dengan pijatan lembut sang suami. Lalu saya mengajak Mbak Meyla dan Mas Arham untuk lipat-lipat menyiapkan baju adik yang akan lahir. Saya asyik menikmati musyawarah Mbak Meyla dan Mas Arham dalam melipat bedong adik.

Mbak Meyla, “begini lo ham…bukan begitu…!” seraya membuka kembali bedong yang telah susah payah Arham lipat.

Mas arham hanya terdiam dan menerima usul dari Mbak meyla walau berkali-kali tetap disalahkan hingga pada akhirnya Mas Arham beralih ke topic baru bersama Mas Rama, yaitu boboboy!

Disana saya sempat tertidur dengan sebelumnya mengatakan pada kakak ipar, “InsyaAllah lairan sore mbak..”.

Matahari telah meninggi, terlihat kesibukan kakak saya, zain keluar masuk kamar untuk membagi diri dengan memijat istri, mengambilkan minuman lemon water, kurma, menyediakan habbats, mengkoordinasikan anak-anak serta mengurus tukang di depan rumah.
Saya hanya memeriksa keadaan umum dan denyut jantung janin 2-3 kali tanpa melakukan pemeriksaan dalam untuk mengetahui pembukaan. Selain untuk menghindari resiko infeksi, juga karena saya tidak terburu waktu untuk dinas.

Kakak ipar begitu tenang dengan melakukan kegiatan seperti biasanya, sholat, membaca Al-Qur’an, makan, minum, bergerak menungging, jongkok bahkan berdiri, begitu terus secara bergantian. Tidak ada jeritan, keluhan maupun erangan manja. Saya membantu menggantikan peran kakak untuk memijat kakak ipar saat kontraksi mulai bertambah kuat. Beberapa saat berlalu, saya asyik ngobrol dengan Mbak Meyla, disuruh Mbak Meyla membaca Al-Qur’an aplikasi di hp.

“Ayo tante, baca tante..” pintanya.

Sunyi dikamar hanya ada kita bertiga, terlihat kakak ipar merubah posisi duduk dengan spontan berjongkok. Saya merasakan atmosfir kemajuan persalinan. Sigap saya mengenakan sarung tangan hanya untuk berjaga-jaga. Terlihat kepala bayi mungil muncul dengan perlahan-lahan, segera saya koordinasikan dengan Mbak Meyla untuk memberitahu ayah bahwa adik bayi sudah akan lahir.

Kakak ipar masih dalam posisi jongkok sambil kedua tangannya menopang kepala yang sudah lahir disusul seluruh badan bayi, saya hanya jongkok, melihat dan mengantisipasi adanya kegawatan. Seorang bayi mungil lahir dikedua tangan sang bunda lalu kemudian didekap dengan kehangatan suhu tubuh yang sempurna. Sontak syukur kepada Allah SWT terucap dibibir ayah, bunda dan tante.

Teringat bahwa kami belum mengetahui jenis kelamin si bayi, dengan perlahan saya membuka kedua selangkangan kaki keponakan kecil lalu semua bertambah girang sekali lagi mengucap syukur, “Alhamdulillah, perempuan..” kakak saya langsung mencium kening kakak ipar seolah berkata, “selamat bunda..”
Pekerjaan bidannya menjadi sangat ringan dengan tidak adanya robekan pada perineum.

Semoga kami istiqomah dalam perjalanan dakwah ini dan dimampukan berbuat lebih banyak untuk umat. Tak pernah berpikir sedikitpun hidup kami akan dilimpahi keberkahan tanpa meminta do’a keluarga, sahabat serta kawan banyak diberbagai penjuru kota. Salam sayang dari kami, keluarga InsyaAllah Sakinah, Mawaddah, Rahmah Wa dakwah. Aamiin.
Wassalamualaikum, wr, wb.

Bidan Wina - Natural Birth Care
#beautyofbirth

Read other articles & publications:
MASA REMAJA / PUBERTAS, ADAKAH? (MENGAPA ISLAM TIDAK MENGGUNAKAN KATA REMAJA)
- Ustadz Budi Ashari, Lc - Saya yaki...
SPA PUTING
Oleh : Bunda Arit Widowati, Founder Sentra...
PENGGUNAAN NECK RING PADA SPA BAYI
Beberapa waktu yang lalu viral tentang per...