MAKE A RESERVATION
Home > Articles & Publication > Unassisted Birth Story

Unassisted Birth Story

by. Admin
24 July 2017
Unassisted Birth Story

Bismillah,

Setiap hari selalu merupakan petualangan dan pengalaman baru bagi saya, bertemu dengan kasus persalinan yang berbeda-beda. Unik, menarik, tetapi tidak banyak yang membuat saya tertarik untuk menuliskannya sebagai kisah. Saya sangat bersyukur Allah SWT menempatkan saya bekerja di sebuah Rumah Sakit sejak baru menamatkan kuliah bertahun-tahun yang lalu. Rumah sakit di tempat saya merupakan tempat rujukan pasien dari fasilitas kesehatan tingkat pertama, kondisi kegawatdaruratan merupakan makanan sehari-hari bagi kami maka sayapun memiliki cukup ketenangan dalam menghadapi kasus persalinan di rumah yang bermacam-macam, biidznillah, Alhamdulillah.

Tenang bukan berarti santai tapi semua terukur sesuai standard yang jelas berdasarkan pengetahuan dan pengalaman klinis yang saya miliki, Insha Allah. Tidak hanya sebagai pendamping medis persalinan namun juga supporter psikologis pasien saat akan melahirkan. Perbedaan kondisi psikologis pasien yang menjalani persalinan di rumah sakit dengan di rumah jelas berbeda. Kejadian pasien melahirkan di RS dengan teriakan histeris heboh tanpa terkontrol berbarengan dengan kata-kata negative atau bahkan kotor dari mereka adalah hal yang sudah biasa saya temukan. Namun tidak semua pasien di RS seperti itu. Saya dapat memaklumi hal tersebut karena kurangnya pengetahuan mereka dalam proses persalinan. Sedangkan pasien yang ingin melahirkan dirumah sudah lebih update dengan ilmu pengetahuan, melalui proses persiapan dan pertimbangan resiko yang akan terjadi dengan matang, karena mengetahui dan mengenal fitroh dan ilmunya itulah yang membuat mereka semakin tebal keimanannya. Bahkan mereka akan siap saat provider yang janji pedampingan tidak dapat datang atau terlambat, maka kejadian persalinan tanpa pendamping tenaga kesehatan (unassisted birth) akan terjadi. Namun, sayangnya saya menemukan beberapa kali yang dengan sengaja ingin menjalani persalinan di rumah bahkan tanpa pendamping medis tetapi tanpa cukup memahami risiko dan kurang dalam persiapan. Subhanallah.

QS. Az Zumar : 9 “Katakanlah, Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.”

Sebagai manusia terlebih seorang Mukmin, tawakal adalah kewajiban kita, hal ini tidak bisa lepas dalam fase kehamilan dan persalinan kita. Namun kita sebagai manusia jangan sampai lupa bahwa Allah SWT menciptakan manusia beserta akalnya untuk berfikir dan berproses lebih baik lagi kedepan. Faktor penyulit itu memang ada nyatanya, para petugas kesehatan itu ada pastinya karena sebuah kondisi tertentu. Sampai-sampai dalam sejarah kebidanan ada bidan laki-laki yang muncul di luar negeri dahulu diantaranya karena terdapat penyulit saat kepala bayi keluar dari vagina, maka dibutuhkan tenaga laki-laki dalam proses penarikan yang disebut dengan Forcep (saat ini metode ini tidak dipakai).

Sungguh apresiasi luar biasa untuk keluarga yang pernah menjalani persalinan tanpa pendamping petugas kesehatan yang tidak direncanakan sejak awal. Saya tekankan pada kalimat “tanpa direncanakan”! karena persalinan tanpa petugas kesehatan yang disengaja dan bahkan direncanakan merupakan tindakan yang berpotensi besar membahayakan. Saya juga memiliki saudara yang menurut saya, beliau sudah berpengalaman dalam persalinan bahkan tanpa pendamping medis, namun saya tetap mengingatkan dan sekaligus diminta untuk selalu berada dalam pendampingan persalinannya. Bahkan saat bayi sudah keluar sekalipun maka pemantauan kegawatan oleh petugas kesehatan masih tetap akan dibutuhkan.

Beberapa waktu yang lalu saya pernah dimention oleh salah satu kenalan saya di fb pada curhatan seseorang yang istrinya dengan terpaksa direncanakan persalinan dirumah tanpa pendamping bidan karena sudah ditolak untuk melahirkan di tempat praktek bidan tersebut dikarenakan HB kurang dari normal.
Terus terang saya menyayangkan dan sedih kepada petugas kesehatan yang dengan kekeh menolak keadaan pasien yang seperti itu tanpa saran yang memberdayakan diri pasien. Seharusnya kita para tenaga kesehatan mempertimbangkan lebih jauh apa jadinya jika pasien-pasien tersebut nekad menjalani proses fisiologis yang membutuhkan perhatian ekstra di rumah karena menghindari layanan kesehatan lain dengan alasan trauma atau yang lainnya, tapi kita tidak bisa membantunya? Tanpa bisa kita ketahui setiap saat apa detak jantung janin masih bagus? Apa ibu tidak mengalami perdarahan hebat? Atau apakah tidak ada penyulit lainnya saat proses tersebut?. Pasien yang melahirkan di tempat terpencil sekalipun itu merupakan tanggung jawab kita bersama dalam mendukung kesejahteraan ibu dan bayinya, dalam menegakkan kualitas pelayanan kesehatan kita di negeri ini.

Seharusnya kita dapat menerima pasien tersebut dengan komitmen kuat dari pasien untuk perbaikan nutrisi lebih baik lagi, komitmen dari pasien untuk cek lab analisa darah untuk mengetahui adakah kelainan yang menghambat peningkatan HB, komitmen dari pasien saat persalinan harus mau di intervensi dan bahkan dirujuk saat terjadi kegawatan. Apalagi kehamilannya masih 8 bulan, Insha Allah masih ada waktu untuk melakukan persiapan itu. Tugas bidan tidak hanya mendampingi saat persalinan tapi juga mengambil peran dalam menyiapkan sebelum persalinan agar mendapatkan persalinan yang sehat dan minim trauma.

Kebetulan mention Fb itu bertepatan pada saat pasien saya sendiri yang melahirkan di rumah tanpa seorang bidan, sehingga saya belum menjawab mention tersebut dan menunggu waktu luang untuk menulis kisah pasien saya ini.
Bunda L sedang hamil anak ke 5, pada persalinan anak ke 4 kurang lebih 1,5 tahun yang lalu dengan pendampingan saya di rumahnya dengan alami dan lancar. Sudah lama tidak terdengar kabar hingga hamil lagi saat mengabari saya bahwa HPL sudah di depan mata.

22 Maret 2017 pukul 19.49
Bunda L menghubungi saya via WA mengatakan bidan praktek lain yang sudah ada janji dengan beliau tidak berada ditempat sedangkan beliau sudah mengalami kontraksi walau belum sering dan sudah mengeluarkan lendir bercampur darah. Beliau juga mengatakan ragu dengan bidan yang dimaksud dikarenakan bidannya juga ragu akan keadaan bayi Bunda L yang dinilai terlalu besar.

“Sepertinya berjodoh dengan Mbk Wina dan semoga Mbk Wina bersedia menemani.” Itu yang dikatakan Bunda L kepada saya.

Bunda L berpostur tinggi dan ini merupakan kehamilan yang ke 5 dengan riwayat kakak salah satunya lahir dengan BB 4 kg. Jadi keadaan dan riwayat tersebut meyakinkan saya bahwa tidak masalah jika melahirkan bayi besar sekali lagi. Maka saya menyetujui perjanjian pendampingan karena kami sudah saling mengenal satu sama lain pada persalinan sebelumnya.

25 Maret 2017 pukul 20.30
Bunda L menghubungi saya dengan mengatakan bahwa, “ketubannya tiba-tiba pecah bu wina, warna hijau seperti BAB yang jelek itu loh..!”.

Saya minta dikirimkan foto warna ketubannya karena posisi saya sedang dinas sore di RS. Mungkin sinyal waktu itu tidak bagus oleh sebab itu fotonya belum juga terkirim di WA. Lalu saya menghubungi balik Bunda L dengan menyarankan ke bidan terdekat untuk cek detak jantung bayinya, apakah masih bagus atau ada tanda bayi stress. 10 menit kemudian saya dihubungi kembali bahwa ternyata bayi dan plasentanya sudah lahir.

“Alhamdulillah ini sudah lahir bu wina, ndak sempat ke bidan. Apakah bu wina bisa kesini?” pinta beliau.

Lalu dengan segera saya meminta ijin teman untuk meninggalkan RS lebih dulu walau jam dinas masih belum selesai. Perjalanan menuju kota sidoarjo lagi-lagi dengan guyuran hujan deras dan suara petir bergemuruh tidak menyurutkan langkah saya untuk kesana. Dalam hati hanya berharap dan berdo’a semoga Allah SWT menyehatkan ibu dan bayinya dengan tidak terjadi komplikasi paska persalinan.

Setelah sampai dirumah Bunda L, saya disambut dengan suaminya Pak P sudah pernah bekerja sama dengan saya melalui persalinan sebelumnya. Saya melihat bayi dan ibunya dan bersyukur bahwa keduanya sehat. Saya melakukan pemeriksaan keadaan paska persalinan dan melakukan penjahitan perineum dengan ditemani obrolan Bunda L kepada saya dengan menceritakan keadaan sore tadi panjang lebar dan dengan santainya.

“saya tadi sudah telpon bidannya mbak, tapi bidannya ndak mau kerumah sini sedangkan saya sudah tidak kuat buat naik mobil menuju ke tempat prakteknya, makanya saya putuskan untuk menunggu mbak wina selesai kerja eh ternyata sudah kepingin ngeden aja..” kata Bunda L.

Evaluasi persalinan selesai, ibu sudah rapi dan diseka lalu tahap selanjutnya menimbang bayi dan kami sejenak terpukau dengan hasil berat bayi 4300 gram dan panjang badan 54 cm. Selamat datang baby Fatih, semoga menjadi anak sholeh yang menyejukkan hati kedua orang tua dan menjadi pejuang agama, aamiin.

Tugas saya sebagai bidan adalah mengingatkan bahwa Allah adalah Al Wakiil, Dialah yang Maha Mewakili atau Maha Memelihara dan Mengurusi seluruh kebutuhan makhluk-Nya. Saya mengingatkan kembali fitroh kehamilan dan persalinan telah sempurna Allah ciptakan. Mengajarkan pengetahuan untuk menghadapinya dengan iman dan ilmu. Memantau kegawatan akan, saat dan paska persalinan. Memberikan intervensi medis jika sangat diperlukan. Itu semua saya lakukan karena sebuah ayat inspirasi,

“…Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya…”, Al Maidah : 32.

Setelah kita mengenal Allah melalui asma-Nya, kemudian menyempurnakan ikhtiar kita sebagai bentuk ibadah kepada-Nya, maka tahap selanjutnya adalah memantapkan di dalam hati bahwa tiada yang kuasa menolong kita kecuali Allah semata. Setelah upaya yang kita lakukan dengan maksimal, jangan bergantung kepada makhluk, karena mereka semua hanyalah perantara. Bergantunglah hanya kepada Allah. Tunailah tahapan untuk tawakal. Kalau ternyata jadinya unassisted birth, Insha Allah, Allah mudahkan persalinannya lewat tangan-tangan malaikat Nya langsung. Jadi tidak lompat tahapan.

-Bidan Wina_Natural Birth Care-

Read other articles & publications:
MASA REMAJA / PUBERTAS, ADAKAH? (MENGAPA ISLAM TIDAK MENGGUNAKAN KATA REMAJA)
- Ustadz Budi Ashari, Lc - Saya yaki...
SPA PUTING
Oleh : Bunda Arit Widowati, Founder Sentra...
PENGGUNAAN NECK RING PADA SPA BAYI
Beberapa waktu yang lalu viral tentang per...