MAKE A RESERVATION
Home > Articles & Publication > PERAN MIKROBA IBU SELAMA KEHAMILAN (PENDAHULUAN)

PERAN MIKROBA IBU SELAMA KEHAMILAN (PENDAHULUAN)

by. Admin
21 August 2021
PERAN MIKROBA IBU SELAMA KEHAMILAN (PENDAHULUAN)

Bakteri dalam usus mempengaruhi produksi antibodi dan diri mereka sendiri mengeluarkan metabolit. Pada wanita hamil, senyawa ini dapat mempengaruhi perkembangan kekebalan janinnya.

Ibarat tangan yang menarik tali di pertunjukan boneka, mikroba tetap kita memengaruhi keseharian hampir semua sistem biologis kita. Misalnya, interaksi inang-mikroba selama tiga tahun pertama kehidupan sangat penting untuk pengembangan sistem kekebalan tubuh, dan gangguan pada mikrobiota usus, atau dysbiosis, selama masa kritis di awal kehidupan dapat memiliki efek merugikan jangka panjang pada kesehatan. Sampai baru-baru ini, pendidikan kekebalan yang dimediasi mikroba ini diperkirakan dimulai ketika bayi yang baru lahir meninggalkan lingkungan rahim yang relatif steril dan dibekali dengan mikroba ibunya, tetapi beberapa penelitiam dalam beberapa tahun terakhir telah menunjukkan bahwa mikrobioma ibu dapat memberi pengaruh lebih awal pada janin yang baru tumbuh.

Pada pertengahan 2010-an, ketika peran mikrobioma ibu selama kehamilan mulai diteliti, tidak ada bukti langsung bahwa bakteri lokal ibu mempengaruhi bayi yang sedang berkembang. Namun, tampaknya terlalu dini untuk berpikir bahwa pengaruh mikrobiota ibu hanya akan dimulai saat lahir. Kita tahu bahwa antibodi ibu melintasi plasenta untuk melindungi janin dari infeksi, dan patut diduga antibodi ini juga dapat mengarahkan pematangan sistem kekebalan tubuh. Kita juga tahu bahwa bakteri kommensal, selain mikroba patogen, memicu perkembangan antibodi. Selain itu, ada asumsi bahwa mungkin produk mikroba atau metabolit juga dapat ditransfer untuk memulai paparan ke dunia mikroba bahkan sebelum bayi dipapar dengan mikrobiomanya sendiri saat lahir. Sekarang, ternyata terbukti molekul yang diproduksi bakteri dan antibodi yang berasal dari ibu muncul untuk mendorong perkembangan kekebalan di dalam rahim.

Banyak pertanyaan yang belum terjawab, dan efek jangka panjang dari fenomena ini belum diketahui. Namun, tampaknya semakin mungkin bahwa mikrobioma ibu kita, sampai batas tertentu, berpeluang membentuk kesehatan dan kesejahteraan kita sebelum kita dilahirkan.

Asal-Usul Perkembangan Kesehatan Dan Penyakit

Selama persalinan, bayi terpapar mikrobiota ibu. Anak-anak yang lahir melalui vagina diperkenalkan pada mikroba vagina dan tinja, sementara mereka yang lahir melalui operasi caesar didominasi oleh mikrobiota kulit ibu dan kadang-kadang mikroba yang diperoleh di rumah sakit. Pentingnya transfer mikroba vertikal ini terlihat jelas dalam tingginya tingkat gangguan kekebalan, metabolik, dan perkembangan saraf di antara bayi yang lahir melalui operasi caesar.

Setelah lahir, dibutuhkan beberapa tahun bagi mikrobiota anak untuk sepenuhnya berkembang dan melakukan diversifikasi. Ini adalah proses yang dinamis, sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal termasuk kebersihan, penggunaan antibiotik, dan diet, termasuk oligosakarida dari ASI. Dalam kurun waktu yang sama, sistem kekebalan tubuh anak sedang mengalami perkembangan dan pematangan yang intens dan sangat rentan terhadap pencetakan mikroba. Mengekspos anak-anak terhadap antibiotik selama periode kritis ini telah dikaitkan dengan peningkatan kerentanan terhadap beberapa penyakit, kemungkinan karena efek tidak langsung yang dimiliki obat ini terhadap perkembangan kekebalan tubuh.

Pada tahun 2013 dan 2014, ketika para peneliti mulai mempertanyakan peran mikrobiota ibu selama kehamilan, beberapa peneliti meluncurkan studi epidemiologi dan hewan untuk memeriksa apakah paparan antibiotik dalam rahim menimbulkan risiko yang sama dengan kesehatan anak. Janin tidak memiliki mikrobiota mereka sendiri, sehingga setiap pendidikan kekebalan yang dimediasi mikroba yang mungkin terjadi di dalam rahim jatuh ke mikroba lokal dari orang tua kandung, dan paparan antibiotik selama kehamilan akan mengganggu ini.

Dan benar saja, dalam penelitian, tikus hamil yang diekspos antibiotik dapat memodifikasi fungsi sistem kekebalan tubuh anak dan mengubah respon mereka terhadap penyakit. Ini pertama kali ditunjukkan pada tahun 2015, ketika Youjia Hu dan rekan-rekannya dari Yale University menunjukkan bahwa paparan antibiotik prenatal mempengaruhi perkembangan diabetes tipe 1 pada keturunannya. Sejak itu, sejumlah penelitian lain juga menunjukkan efek pada keturunan ketika dilakukan manipulasi mikrobiota pada tikus hamil, baik dengan antibiotik atau intervensi diet. Para peneliti telah mengamati hasil tersebut dalam berbagai model, dengan implikasi tidak hanya untuk diabetes, tetapi untuk kerentanan terhadap asma, obesitas, dan kolitis, serta perkembangan perilaku seperti autisme.

Di banyak situasi, manipulasi mikrobiota ibu mengubah komunitas mikroba yang diwariskan ibu ke bayi saat lahir, dan kemudian mengubah perkembangan kekebalan pada inang neonatal. Oleh karena itu terbukti ada kaitan antara fenotipe kekebalan yang dijelaskan dalam sebagian besar penelitian ini dengan mikrobiota ibu secara langsung, yang berlawanan dengan yang dimediasi oleh mikrobiota yang baru dibekalkan dari janin. Untungnya, kita mulai mengenali perbedaan-perbedaan ini secara terpisah, dan muncul petunjuk bahwa mikrobiota ibu mendidik sistem kekebalan tubuh dan saraf anak sedikit demi sedikit.

Bersambung

Sumber :
https://www.the-scientist.com/features/the-role-of-mom-s-microbes-during-pregnancy-69009?utm_content=176346252&utm_medium=social&utm_source=facebook&hss_channel=fbp-212009668822281

Read other articles & publications:
MASA REMAJA / PUBERTAS, ADAKAH? (MENGAPA ISLAM TIDAK MENGGUNAKAN KATA REMAJA)
- Ustadz Budi Ashari, Lc - Saya yaki...
SPA PUTING
Oleh : Bunda Arit Widowati, Founder Sentra...
PENGGUNAAN NECK RING PADA SPA BAYI
Beberapa waktu yang lalu viral tentang per...