MAKE A RESERVATION
Home > Articles & Publication > Medan Dakwah Pejuang Laktasi

Medan Dakwah Pejuang Laktasi

by. Admin
09 March 2021
Medan Dakwah Pejuang Laktasi

Berjuang di ladang dakwah Laktasi maupun persalinan alami bukanlah sebuah hal yang mudah. Sama tak mudahnya dengan para ibu yang menghadapi kendala penyusuan. Tak hanya kendala dari dalam, yaitu dari diri sang ibu (misal: puting lecet, asi belum keluar, asi tidak lancar, PD bengkak, dan lain-lain), tapi juga kendala dari luar seperti kurangnya support dari lingkungan dan orang terdekat.

Di sekitar kita, masih banyak oknum provider kesehatan yang tidak pro ASI ataupun persalinan alami sebagai salah satu kendala yang muncul dalam dakwah. Tapi bukan itu yang kami soroti. Kali ini kami menyoroti peranan media massa dalam memberi andil terhadap kegagalan seorang ibu dalam menyusui (kendala penyusuan).

Media massa, dari dulu hingga kini, masih menjadi alat propaganda yang efektif di masyarakat. Jika digunakan untuk kebaikan, tentu ini sangat bermanfaat. Tapi bagaimana jika digunakan untuk propaganda serta penggiringan opini publik yang keliru?

Wah, koq bahasanya serius amat, ya? Hehehe...

Boleh, ya bunda, sekali-sekali kita bahas sedikit di luar materi laktasi dan persalinan.

Dalam sebuah tayangan media massa layar kaca tampak pasangan selebritis sedang memberi mpasi kepada bayi mereka. Kegiatan mereka tampak seru ketika menyuapkan menu mpasi pertama bayi mereka. Tebak berapa usia bayinya?

4 bulan.

Masih lekat dalam ingatan beberapa bulan sebelumnya ada tayangan vlog channel seleb yang juga menayangkan momen bayi kecil mereka mendapat mpasi. Tebak lagi berapa usia bayinya?

Betul, sama-sama 4 bulan.

Mungkin ini bagi sebagian kita adalah hal biasa.

"Itu cuma tayangan infotainment."

"Ah, itu cuma untuk keperluan konten."

Tapi bagi kami hal tersebut tidaklah sesederhana itu.

Ada sebuah artikel menarik yang kami temukan di sebuah situs pro ASI yang menyentil fenomena memprihatinkan di masa sekarang ini.

Dalam sebuah artikel yang berjudul "Breastfeeding : How the Biological Norm Became Perceived As A Modern Day Pressure", penulisnya mengamati adanya upaya tersistematis yang membuat aktifitas menyusui dikesankan sebagai sebuah tekanan bagi seorang ibu melahirkan, dan sufor menjadi sebuah solusi paling mudah untuk lepas dari tekanan. Menyusui dipersepsikan sebagai sesuatu yang sulit, melelahkan, mengurasi tenaga serta emosi, dan menyakitkan, serta kuno di zaman modern ini. Sementara sufor dianggap sebagai pilihan yang lebih canggih, kekinian, dan berkelas. ASI dan menyusui dikesankan hanya untuk kelas sosial rendahan yang tak mampu membeli sufor bermerk prestisius. Tak hanya itu. Pola penanaman mindset bahwa sufor adalah pilihan kekinian bahkan dilakukan media massa secara massive. Di buku cerita, iklan, sinetron, film, bahkan buku bergambar untuk anak-anak sering dijumpai ikon khas sufor yaitu botol dot bertebaran tampil di mana-mana. Seolah kehadiran botol dot adalah sesuatu yang wajar dan normal sekarang ini. Sementara menyusui jarang dibahas di media massa sehingga dianggap menjadi bentuk kemunduran dan penurunan kelas sosial. Selengkapnya bisa dibaca di artikel berikut:

https://www.laleche.org.uk/breastfeeding-how-the-biological-norm-became-perceived-as-a-modern-day-pressure/

Pada akhirnya, para ibu dibuat asing oleh aktifitas menyusui. Bahkan mencari ibu susuan sangatlah susah sekarang ini. Berbanding terbalik dengan di zaman Nabi, di mana mencari ibu susuan saat itu sangat mudah dan para muslimah begitu suportif terhadap ibu yang baru melahirkan. Jika memang menyusui adalah sesuatu yang kuno dan kemunduran, lalu mengapa Nabi menyebutkan tiga generasi awal umat Islam adalah generasi TERBAIK? Apakah kita lupa dengan kalimat emas beliau itu? Mari, coba renungkan baik-baik.

Lalu apa solusi atau cara yang bisa kita lakukan untuk mengcounter penggeseran pola pikir dan penggiringan opini publik terhadap praktik menyusui?

Jadilah bagian pejuang laktasi.

Berdakwahlah secara masif di dunia maya. Jangan mau kalah dengan media massa yang masif mengampanyekan dot di mana-mana. Share tulisan tentang manfaat menyusui. Share tentang nakes atau provider yang pro ASI. Share tentang keberadaan konselor laktasi di sekitar kita agar jika ada yg punya masalah bisa diarahkan ke sana, bukan ke sufor. Share tulisan-tulisan dari penggiat dakwah laktasi seperti Sentra Laktasi Muslimah baik di instagram dan facebook, video di channel YouTube SALMA, serta berkontribusi dalam kegiatan dakwah dengan berdonasi lewat rekening Sentra Laktasi Muslimah.

Sebarkan

Sebarkan

Sebarkan

Jangan anggap remeh andil kita sekecil apapun. Siapa tahu dari sedikit informasi yang kita bagikan menjadi solusi yang dinanti-nanti seorang ibu di luar sana.

Jangan pernah lelah berbagi informasi. Tanggung jawab pembentukan generasi emas ada di tangan kita semua.

Yuk, gabung bersama-sama. Jadilah pejuang laktasi lillahi ta'ala.

Barokallohu fiikum jami'an

Read other articles & publications:
MASA REMAJA / PUBERTAS, ADAKAH? (MENGAPA ISLAM TIDAK MENGGUNAKAN KATA REMAJA)
- Ustadz Budi Ashari, Lc - Saya yaki...
SPA PUTING
Oleh : Bunda Arit Widowati, Founder Sentra...
PENGGUNAAN NECK RING PADA SPA BAYI
Beberapa waktu yang lalu viral tentang per...