MAKE A RESERVATION
Home > Articles & Publication > Catatan Hypno Part 2 : Gelombang Cahaya Allah

Catatan Hypno Part 2 : Gelombang Cahaya Allah

by. Admin
28 November 2020
Catatan Hypno Part 2 : Gelombang Cahaya Allah

Bismillah,

Mari kita tinggalkan dulu penelitian tentang gelombang otak. Dalam catatan kali ini, kita akan mengambil pengamatan tentang gelombang lain dalam fisika yaitu CAHAYA. Tujuan belajar tentang gelombang cahaya ini kita gunakan sebagai pembanding dengan tema gelombang otak pada catatan sebelumnya.

Sekedar informasi saja, cahaya adalah energi berbentuk gelombang elekromagnetik yang kasat mata dengan panjang gelombang sekitar 380–750 nm. Pada bidang fisika,cahaya adalah radiasi elektromagnetik, baik dengan panjang gelombang kasat mata maupun yang tidak. Warna adalah spektrum tertentu yang terdapat di dalam suatu cahaya sempurna (berwarna putih). Identitas suatu warna ditentukan panjang gelombang cahaya tersebut. Partikel dasar penyusun cahaya dinamakan photon.

Spektrum energi cahaya sangat variatif, dari cahaya energi rendah yang memancarkan jenis gelombang radio sampai jenis gelombang sinar gamma.

(Gambar menunjukkan spektrum warna dengan panjang gelombang masing-masing)

Alat yang digunakan untuk mengamati cahaya tersebut juga berbeda-beda berdasarkan panjang gelombangnya. Cahaya digolongkan menjadi cahaya tampak (visible light) dan cahaya tak tampak (invisible light). Visible light bisa diamati dengan mata telanjang. Pada bidang astronomi, teleskop optic digunakan untuk menangkap cahaya tampak (VL) sedangkan teleskop radio untuk menangkap cahaya dalam panjang gelombang radio begitu juga dengan benda-benda langit dengan panjang gelombang infra merah, ultraviolet, sinar-X hingga sinar gamma, yang termasuk ke dalam cahaya tak tampak (IL). Untuk menangkap cahaya ini memiliki alat khusus sendiri untuk mengamatinya.

Kesimpulannya, jika ada gelombang tentunya terdapat frekuensi dan amplitude, jika ada kedua hal itu tentunya pasti ada getaran.

Cahaya Allah dalam Al Quran

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat per¬umpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Mahamengetahui segala sesuatu. (QS. An Nur :35).

Cahaya yang melingkupi langit dan bumi berlapis-lapis. . Meliputi dimensi Esoterik (Alam Gaib) hingga Eksoterik (alam materi). Seperti halnya peralatan yang digunakan untuk menangkap cahaya dalam ilmu fisika, kita juga memerlukan peralatan yang dapat digunakan untuk menangkap cahaya Ilahi. Peralatan inipun sudah ditiupkan Allah pada tubuh kita, Dialah ruh Al-Quds yang merupakan kesadaran Ruh Ilahi kita. Kita ini berasal dari Allah dan akan kembali kepada Nya (Al Baqoroh 156). Namun secara alamiah, Ruh Al Quds ini terhijab dari kesadaran jiwa kita akibat kotornya hati dan jiwa kita. Beruntunglah Allah memberikan solusi kepada manusia agar terbuka kesadaran Ruh Ilahinya ini dengan menurunkan CAHAYA WASILAH yang merupakan jembatan atau transmitter antara kesadaran Ruh Ilahinya yaitu melalui utusan Allah, Rasululloh Muhammad SAW. Atau jika dalam ilmu biokimia dapat disebut katalisator yang berfungsi untuk mereaksikan dua unsur atau senyawa kimia yang berbeda struktur molekulnya dalam tabung reaksi agar dapat terlarut dengan homogen.

Sekarang kita tahu bahwa cahaya atau energy radiasi “berjalan” seperti gelombang dengan frekuensi tertentu. Begitu pula sekarang kita tahu bahwa setiap benda, termasuk manusia sebenarnya juga energi (hanya saja kurang liquid dibandingkan cahaya) yang bergelar.

Peran sebuah RESONANSI

Bagaimana hubungan antara sebuah sumber energi yang bergetar bisa berhubungan dengan benda lain yang juga bergetar ?

Jawabanya adalah dengan ber-RESONANSI yaitu bergetar pada frekuensi yang sama. Jadi untuk dapat menerima cahaya atau tepatnya pembiasan aliran energy dari suatu sumber cahaya/energi setiap benda beresonansi dengan frekuensi yang sama dengan cahaya yang dipancarkan si sumber cahaya.

Contoh :

1. Hampir setiap benda dapat beresonansi dengan cahaya infra merah (berasal dari benda panas, termasuk matahari, api dll yang berfrekuensi 1011 sampai 1014 Hz). Karena itu hampir setiap benda dapat menerima panas. Kertas yang kita paparkan sinar matahari atau ditaruh dekat api akan terasa panas, artinya kertas tersebut mendapat biasan energi dari matahari atau api. Akan tetapi kalau kita masukkan kertas yang sama tadi dalam microwave (gelombang micro, berasal dari electron yang aktif pada konduktor yang frekuensinya 10-1011 Hz, jadi lebih rendah dari frekuensi cahaya infra merah) kertas itu tidak akan menjadi panas (baca: tidak menerima imbasan energy)

Hal ini disebabkan kertas tersebut (atomic structurenya) dapat berresonansi dengan cahaya infra merah tetapi tidak dapat beresonansi dengan cahaya microwave.

2. Lampu sodium kita lihat berwarna kuning karena atom sodium beresonansi dengan atom pada retina mata kita yang diartikan oleh otak kita sebagai kuning. Begitu juga dengan lampu mercury yang berwarna biru. Manusia yang kebetulan melihat lampu mercury ini menerima pembiasan energy sebesar kurang lebih 23 electron volt karena cahaya-cahaya lampu ini termasuk dalam rentang cahaya tampak yang mengandung energy 2.5 electron volt.

Telah jelaslah pada kita sekarang, bagaimana prosesnya sebuah sumber cahaya yang bergetar pada frekuensi tertentu dapat berhubungan dengan benda yang juga bergetar pada frekuensi yang sama.

Yang ingin memahami contoh peristiwa resonansi sederhana bisa lihat video.

Frekuensi Allah

Nah sekarang, bagaimana caranya sebuah sumber cahaya yang bergetar pada frekuensi yang lebih tinggi dapat berhubungan dengan benda, termasuk manusia yang bergetar pada frekuensi yang lebih rendah?. Atau dengan kata lain , yang ingin kita pelajari adalah bagaimana ilmu fisika menjelaskan tentang :

“Allah memimpin kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki.“ (Potongan Surat An- Nur : 35).

Sebelum melangkah lebih lanjut ada beberapa hal yang harus kita perjelas :

1. Kita sadar bahwa yang kita coba teliti di sini adalah PERUMPAMAAN. Metode ini kita lakukan karena memang banyak sekali perintah Allah dalam Al Quran, agar kita menyimak perumpamaan-perumpamaan yang dibuat oleh-Nya di alam ini untuk dapat mendekatkan diri pada-Nya. Mulai dari perumpamaan sarang laba-laba, lalat, unta dll termasuk mengenai cahaya dalam Surat An Nur di atas

2. Kita tidak mungkin dapat mengukur frekuensi Allah, karena sesuatu yang bisa kita ukur berarti bisa didefinisikan. Sesuatu yang dapat didefinisikan berarti definit (terbatas) karena itu sesuatu yang bisa kita ukur bukanlah Allah yang tiada satupun menyerupai-Nya (Al –Ikhlas:4). Dasar teori yang kita tahu, Allah adalah An Nur/Maha Sumber Cahaya, dan 98 sifat dalam asmaul husna. Kata Maha di sini memiliki arti yang berbeda dengan kata maha pada mahasiswa atau mahaguru yang berarti tinggi/sangat tinggi tapi menunjukkan sifat tak terhitung / uncountable.

3. Setiap pekerjaan seperti yang dinyatakan dalam surat An –Nur : 37 di atas haruslah dengan dasar dari petunjuk Allah (petunjuk Allah dalam bahasa arab disebut diin, sering secara sempit kita artikan melulu sebagai syari’at, aturan dari segala sesuatu yang terasa oleh indera kasar kita dalam beragama).

Pada ilmu fisika ada dua syarat yang harus dipenuhi agar suatu benda dapat beresonansi dengan sumber cahaya yang frekuensinya lebih tinggi dari frekuensi benda itu. Masing-masing syarat ini mutlak harus dipenuhi, dan syarat yang satu melengkapi syarat yang lain. Dalam jargon matematika kedua syarat ini disebut ‘sufficient condition’ / Kondisi yang cukup akan tetapi masing-masing syarat disebut ‘necessary but not suffucuent condition’/diperlukan tapi tidak mencukupi :

1. Pada benda itu tidak terdapat INTERNAL FRICTION/GESEKAN DALAM yang menghalangi gerak natural dari gelombang atomnya.

Contoh : bermain ayunan, Pertama kali kita bermain ayunan, segera kita alami satu pelajaran bahwa kalau kita ingin ayunannya tetap berayun pada ketinggian yang sama haruslah kita bergerak seirama dengan gerakan ayunan tersebut. Kita tunggu sampai penghujung lambung ayunan tersebut, baru kita ayunkan badan kita ke depan atau ke belakang untuk tetap mempertahankan ketinggian lambungan. Kalau kita ayunkan badan kita sebelum ayuanan sampai pada ujung lambungannya terjadilah benturan dorongan (internal friction) yang menyebabkan lambatnya gerak ayunan tersebut.

2. Adanya apa yang disebut dalam fisika sebagai HARMONICS/SELARAS, yaitu adanya frekuensi-frekuensi lain yang frekuensinya adalah merupakan kelipatan dari frekuensi natural dari si benda tadi.

Contoh : Kita dapati dari alasan mengapa dilarangnya barisan tentara berjalan dengan derap serempak sewaktu melewati jembatan. Frekuensi yang terbit dalam langkah serempak barisan tentara kalau kebetulan harmonis (kelipatan) dengan frekuensi jembatan akan dapat menyebabkan robohnya jembatab tersebut, sedangkan bahan dari mana jembatan itu dibuat tidaklah dirancang untuk dapat menerima frekuensi tinggi.

Sekarang bagaiamanakah kita bisa pergunakan analogi dari kedua persyaratan ini untuk dapat “beresonansi” dengan Allah Sumber Cahaya yang Maha Kuat Maha Sempurna yang frekuensinya infinity/tak terbatas?. Di atas kita sebutkan bahwa persyaratan pertama untuk dapat lebih mempertinggi frekuensi benda, termasuk manusia adalah dengan meniadakan internal friction yang menghalangi getaran natural dari atomic structure dari benda itu. Dalam ilmu fisika di atas kita ambil contoh bermain ayunan. Di alam rohaninya, menurut Allah, natural frekuensi manusia adalah frekuensi yang menghamba/mematuhi/fokus untuk tunduk pada Allah/ menyamakan frekuensi Allah :

“Dan tiada kujadikan jin dan manusia melainkan untuk menghamba kepada Ku”, QS. Adz- Dzariyat : 56

**Kita sebut saja frekuensi manusia dengan frekuensi (m),

Seperti contoh bermain ayunan di atas ada hal-hal yang harus kita lakukan untuk menjaga natural frekuensi ayunan itu, yaitu dengan mengayunkan badan kita ke belakang atau ke depan. Demikian pula, ada hal-hal yang harus kita lakukan untuk menjaga natural frekuensi (m), yang jelas dinyatakan pada Surat An Nur 36 dan 37, yang intinya frekuensi itu adalah hidup “LILLAH”. Pemeliharan natural frekuensi (m) dalam pengertian ilmu fisika ini adalah identic dengan apa yang kita kenal dalam istilah agama sebagai menegakkan kalimat Tauhid, “Laa Ilaaaha Illallah”, yang menjadi sebagai rukun Islam yang pertama, yaitu dua kalimat syahadat. Tanpa hidup Lillah dengan jelas, baik Al Quran maupun ilmu fisika menyatakan tertutupnya pintu untuk dapat berhubungan (baca: beresonansi) dengan Allah. Karena seperti yang dijelaskan di atas, setiap benda bergetar dan beresonansi dengan cahaya yang frekuensinya sama.

Kalau kita tidak bergetar pada frekuensi (m) maka tertutuplah kemungkinan untuk dapat beresonansi dengan sumber cahaya yang frekuensinya lebih tinggi. Jika kita malah beresonansi dengan selain Allah seperti alam, benda yang dianggap keramat, benda yang dianggap membantu, suara, organ, harta, tahta yang sama-sama makhluk Allah, dimana mereka juga memiliki frekuensi sendiri. Keadaan ini dinyatakan Allah sebagai Syirik, yang istilah agamanya diartikan sebagai “dosa yang tidak diampuni oleh Allah”, QS. An Nisa 48 & 116. Sedangkan dalam ilmu fisikanya dapat dikatakan “tidak mendapat imbas energy dari Maha Sumber Energi yang frekuensinya infinity.”

Contoh :

1. Terimakasih lambungku, atas rasa mual dan muntah yang engkau berikan. Mengajarkan rasa sabar, pasrah dan lebih pandai memahami tubuhku. Terimakasih sudah melindungiku dari makanan yang tidak baik.

2. Terimakasih tubuhku untuk rasa pegal dipunggung dan pinggang karena harus menopang buah cinta yang kian membesar

Kalau kita bersyukut kepada Allah, ini juga upaya menyamakan dengan frekuensi Allah

Syarat yang kedua adalah HARMONICS yaitu adanya frekuensi lain yang menjadi kelipatan dari frekuansi (m) ini. Dalam contoh bagaiamana energi dari derap langkah barisan tentara yang bergetar pada frekuensi tertentu, kalau kebetulan harmonis dengan frekuensi jembatan, dapat mempertinggi natural frekuensi si Jembatan.

Menurut Allah, frekuensi yang harmonis dengan frekuensi (m) adalah :

Katakanlah, (Ya Muhammad)! Jika kamu kasih kepada Allah, maka hendaklah ikut saya, pastilah Allah mengasihi kamu dan mengampuni dosamu. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” QS. Ali Imran: 31.

Dalam terjemahan fisikanya, mereka yang kasih pada Allah adalah frekuensi (m) sedangkan Nabi Muhammad adalah kelipatan frekuensi (m). Mustahil jika Nabi Muhammad bukan kelipatan frekuensi (m), Nabi bisa diikuti (baca: resonansi) oleh frekuensi (m) seperti yang diperintahkan Allah yang Maha Tahu pada firman-Nya diatas.

Lalu, apa yang menegaskan bahwa Nabi Muhammad berfrekuensi kelipatan frekuensi (m) :

“Tiada kami mengutus engkau (Yaa Muhammad), melainkan menjadi rahmat bagi sekalian alam.” QS. Al Anbiya 107

**Kita sebut saja frekuensi Nabi Muhammad dengan frekuensi (M) dan frekuensi Allah yang infinity dengan frekuensi (I)

Dalam terjemahan fisikanya, seperti kita sebutkan di atas, kalau terjadi hubungan (baca: resonansi) antara satu frekuensi dengan frekuensi lain, pada saat yang sama juga terjadi imbasan energi. Kalau Allah mengatakan pada firman Nya di atas, bahwa

“diutus Nya Muhammad untuk menjadi rahmat “,

maka terjemahan fisikanya,

“telah terjadi imbasan energy dari frekuensi (I) ke frekuensi (M).”

Lalu, adakah buktinya bahwa imbasan energi dari frekuensi (I) ke frekuensi (M) dan frekuensi (m) pernah terjadi?. Allah menerangkan siapa yang sebenarnya berperang/jihad pada Perang Badar yang dimenangkan oleh Kaum Muslimin walaupun jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah musuh mereka :

“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh merekka, dan bukan kamu yang mlempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar…”, QS. Al Anfaal 17

Inilah sebabnya Allah (baca: frekuensi (I)) menekankan kepada orang yang beriman (frekuensi (m)) betapa pentingnya bersholawat dan mentauladani (baca: beresonansi) kepada Nabi Muhammad (frekuensi (M)).

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya senantiasa bersholawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” QS. Al Ahzab: 56

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu)bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah,” QS. Al Ahzab: 21

Kembali kepada hypno,

Pertanyaanya adalah, jika yang diolah dalam metode ini adalah frekuensi gelombang otak, maka kepada siapa/apakah gelombang frekuensi ini difokuskan (baca:diresonansikan) ? Dan dengan cara seperti apa agar dapat menyesuaikan frekuensinya ?

Jazakumulloh bimbingannya teman Halaqoh suami, Ustadz Anang, Fisikawan Universitas Airlangga Surabaya dan Pak Guru Jalu Pangna

Bidan Wina Papilio NBC

(bersambung ke part 3)

Read other articles & publications:
MASA REMAJA / PUBERTAS, ADAKAH? (MENGAPA ISLAM TIDAK MENGGUNAKAN KATA REMAJA)
- Ustadz Budi Ashari, Lc - Saya yaki...
SPA PUTING
Oleh : Bunda Arit Widowati, Founder Sentra...
PENGGUNAAN NECK RING PADA SPA BAYI
Beberapa waktu yang lalu viral tentang per...