MAKE A RESERVATION
Home > Articles & Publication > Manajemen Laktasi New Normal

Manajemen Laktasi New Normal

by. Admin
14 September 2020
Manajemen Laktasi New Normal

Assalamu'alaikum bunda sholihah semua.

Bagaimana kabarnya? Riweuh? Rempong? Sekarang kita sedang berada di kondisi yang sulit. Sebagian harus menghadapi keterbatasan ekonomi sehingga harus menambah kesibukan agar ada penghasilan untuk keluarga. Sebagian lagi disibukkan dengan kegiatan school from home anaknya. Harus menyiapkan ini itu, tugas ini itu, belum lagi jika anak-anak ribut sendiri. Sementara kerjaan rumah belum kelar. Suasana berisik dalam rumah membuat psikis cepat emosi. Manajemen laktasi jadi berantakan. Ujung - ujungnya? Produksi asi menurun. La hawla wala quwwata illa billah.

Apa yang harus dilakukan jika kondisinya seperti itu? Lelah fisik dan hati, makan tidak teratur (seingatnya, selaparnya apa yang tersedia) dan spesial mamaperah tidak sempat pumping (dengan alasan bayi dbf terus). Ada yang merasakan demikian?

Untuk mencegah atau mengatasi problem di atas, ada sedikit tips dari pengalaman Bunda Arit, selaku konselor laktasi andalan Papilio NBC, yang bisa diikuti.

  1. Manajemen Tenaga. Bagi para ibu, terkadang agak susah untuk mendelegasikan pada yang lain karena sebagai kepala urusan domestik, ibulah yang paling tahu hal-hal kecil yang ada di rumah. Bahkan jika ada yang bantu pun, dia akan pastikan bahwa yang dikerjakan atas pengawasan dan sepengetahuan sepenuhnya dari si ibu. Otomatis ini membuat busui jadi mudah capek, lelah, kurang istirahat dan tanpa terasa ada yang tiba-tiba terasa kempes tak berdaya. Solusinya : Pertama, Don't be perfectionist. Sifat begini bisa bikin oksitosin mampet. Lakukan sebisanya saja dan usahakan tetep enjoy apapun yang terjadi. Kemudian yang kedua tentu saja sempatkan istirahat, dan jadikan moment menyusui langsung (dbf) sebagai kesempatan buat take a break dan relaksasi melepaskan hormon stress dan penuh tekanan agenda yang udah antri dilaksanakan. Jadi kalau pekerjaan rumah gak kelar-kelar karena moment ini, balik aja ke saran pertama ya...don't be perfectionist. Hehehe...
  2. Manajemen Nutrisi ibu dan bayi. Nah ini dia, jadwal makan yang berantakan, makan seingatnya dan seadanya. Baru makan sedikit, ada yang nangislah, ada yang pup lah, ada yang minta dibantu mengerjakan tugas lah. Sampai busui lupa makan. Solusinya : Panduannya tetap ya, makan kudu halal dan thoyyib serta terapkan adab makan Rasulullah di manapun dan kapanpun, insya Alloh aman buat produksi ASI asal ibu pun menyukainya. Buah, sayur dan minum yang cukup membawa banyak pengaruh yang positif untuk produksi ASI. Pokoknya kudu sempatkan makan. Sedikit - sedikit tak mengapa. Asal bisa mengganjal perut. Untuk manajemen nutrisi buat bayi yang sudah MPASI, yang sering jadi problem adalah soal menyiapkan MPASI. Tolong jangan terlalu ribet. Jika mampu, silahkan, monggo. Jika tidak memungkinkan, jangan terlalu khawatir. Insya Alloh selama manajemen laktasinya bagus, kenyangkan bayi dengan ASI maka nutrisi bayi akan aman-aman saja. Perbanyak menyusui langsung.
  3. Manajemen Psikologi. Beberapa waktu ini banyak seliweran poster tentang anjuran menghindari moms shaming, kids shaming, body shaming, dll pokoknya yang shaming-shaming. Insya Alloh kalau kita bisalah ya menahan diri untuk tidak melakukannya. Tapi bagaimana jika ternyata kita yang menerimanya? "Anaknya koq kurus? Rumah koq berantakan? Cucian koq numpuk? Ngapain aja di rumah?" Nah saat inilah moment penting kita untuk menjaga psikologis kita stay normal. Solusinya : Apapun kemungkinan Shaming yang kita terima, inget ya bunda....misi utama kita menjaga oksitosin tetap jaya. Jadi silahkan lakukan apa saja yang sekiranya oksitosin kita nggak drop hanya karena kebawa omongan orang. Bisa dengan menghindari, menghadapi langsung, atau justru cuek bebek EGP, selama panduan kita benar. Maka tolak ukur yang utama dari Al Qur'an dan hadist lah yang pantas kita pikirkan. Abaikan komentar julid. Fokus menjaga hati saja. Tak perlu dilihat atau dicari tahu. Biarkan yang berkomentar. Nanti juga diam sendiri.
  4. Manajemen Laktasi. Pada prinsipnya sama kok, susui sesering dan semau bayi dan makin sering payudara kosong maka akan sering berproduksi. Tapi kenyataannya, kemauan menyusu bayi bisa berkurang dikarenakan aktivitas bayi dengan anggota keluarga lain atau dikenyangkan dengan mpasi. Dipadukan dengan kondisi ibu yang juga sibuk dan merasa cukup menyusui langsung bayi. Jika tanda-tanda penurunan produksi asi mulai muncul, jangan terlena, segera lakukan langkah-langkah relaktasi sesuai dengan permasalahannya. Bisa jadi dari frekuensi pengosongan payudara yang berkurang (prolaktin) atau karena psikologi ibu yang banyak pikiran (oksitosin). Khusus untuk ibu bekerja, kesibukan work from home bisa jadi awal penurunan produksi asi jika tidak dibarengi dengan tetap menyempatkan jadwal pumping minimal 2-3x dalam sehari. Begitu juga dengan pemberian ASI perah baiknya tetap diberikan sesekali oleh selain ibunya agar bayi tidak lupa rasa asi perah karena full dbf yang nanti bisa membuat bayi tak mau asi perah.
  5. Manajemen Iman. Nah, sebenarnya keempat tips di atas muaranya di manajemen iman. Jika satu hal ini senantiasa kita jaga, apapun tantangan menyusuinya insya Alloh akan bisa teratasi segera. Karenanya hendaknya kita selalu mengingatkan diri, jagalah niat yang lurus karena Alloh, jangan sampe lelah kita menyusui jadi sia-sia bahkan menjadi sebab celaka masuk neraka hanya karena salah menjaga niat dalam menyusui bayi kita. Jangan pernah lupa menyertakan doa, sedekah, dan memudahkan urusan saudara kita. In sya Allah ini akan memudahkan pula urusan kita termasuk misi dunia akhirat kita memenuhi hak ASI bayi ini.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Sumber: Sentra Laktasi Muslimah

Read other articles & publications:
MASA REMAJA / PUBERTAS, ADAKAH? (MENGAPA ISLAM TIDAK MENGGUNAKAN KATA REMAJA)
- Ustadz Budi Ashari, Lc - Saya yaki...
SPA PUTING
Oleh : Bunda Arit Widowati, Founder Sentra...
PENGGUNAAN NECK RING PADA SPA BAYI
Beberapa waktu yang lalu viral tentang per...