MAKE A RESERVATION
Home > Articles & Publication > Kehamilan Dalam Al Qur'an

Kehamilan Dalam Al Qur'an

by. Admin
05 June 2020
Kehamilan Dalam Al Qur'an

Bagaimanakah Islam, dalam hal ini Al Qur'an, membahas tentang kehamilan? Adakah potret kehamilan dalam Qur'an?

Ternyata ada, dan itupun dikisahkan dalam dua kondisi. Yang pertama, kondisi normal atau wajar. Wajar di sini adalah usia yang relatif muda dan ada suaminya. Contohnya adalah kisah hamilnya istri Imron.

Kondisi kedua, yang di luar kewajaran. Seperti apa contohnya? Kehamilan Maryam ibunda Nabi Isa yang hamil tanpa ada laki-laki yang menghamilinya, serta hamilnya istri Nabi Ibrahim dan istri Nabi Zakariyya yang sama-sama hamil di usia tua dengan riwayat mandul sebelumnya.

Apa yang terjadi dengan kehamilan yang di luar "kewajaran' tadi? Usia tua, divonis mandul, ternyata kemudian hamil, lalu melahirkan dan dari sana turun pula garis kenabian. Ma sya Allah.

Maka apa yang hendak Allah sampaikan lewat Al Qur’an dari kisah-kisah kehamilan ini?

Hikmahnya, kehamilan itu ajaib.

Hamil itu bisa tidak ilmiah. Bagaimana bisa dikatakan ilmiah, ketika dalam ilmu manusia beliau-beliau yang disebutkan di atas divonis mandul? Tapi begitulah, hamil itu bisa tidak ilmiah. Karena itulah jawaban terhadap kehamilan-kehamilan tadi singkat dan jelas: "Kadzaalika qoola robbuk". Begitulah firman Tuhanmu. Ini isyarat bagi ilmu pengetahuan untuk lebih rendah hati di hadapan wahyu dan berhati-hati dalam memvonis mandul, tak mungkin punya anak, dan lain sebagainya. Ilmu pengetahuan memang perlu dipelajari setinggi-tingginya, tapi tidak boleh angkuh. Cukuplah kisah kehamilan istimewa dalam Al Qur'an itu menjadi pengingat kita agar ilmu pengetahuan itu kita letakkan di bawah frame wahyu.

Hamil, adalah hal yang sangat penting. Karena Qur'an langsung yang membahasnya. Perhatikan surat Maryam. Kisah kehamilan bunda Maryam diceritakan begitu detilnya dalam surat tersebut hingga sampailah pada satu kunci penting yang harus dipegang oleh para istri dan juga suami. Apa itu kuncinya? Bahwa ibu hamil itu TIDAK BOLEH SEDIH.

Ya, itulah konsep Qur'an. Mari simak bagaimana kisah bunda Maryam hingga kita bisa sampai pada kesimpulan ini.

Bunda Maryam, wanita baik-baik di kaumnya, terkenal kesholihannya, wanita yang menyerahkan dirinya untuk beribadah dalam mihrabnya, tiba-tiba hamil. Bisa dibayangkan seperti apa pandangan masyarakat kepada beliau. Pandangan publik tentu berubah terhadap beliau. Ini membuat hatinya sangat sedih hingga kesedihan ini mencapai puncaknya tepat di saat beliau merasakan sakitnya ketika akan melahirkan yang membuat beliau berucap seperti yang diabadikan dalam QS.19: 23 :

(23) Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan".

Ternyata, sedih saat hamil itu tidak benar. Tidak dibolehkan. Perhatikan, sedihnya Maryam yang disebutkan dalam satu ayat, dibalas oleh Allah dengan menghiburnya di 3 ayat sesudahnya. Sedihnya 1 ayat, hiburannya 3 ayat, saking tidak bolehnya orang hamil itu bersedih hati.

(24) Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.

(25) Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu,

(26) maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini".

(QS. 19: 24-26)

Sedemikian pentingnya Allah menghibur Maryam sampai dibuatkan anak sungai di bawahnya. Air yang mengalir gemericik dan airnya bisa diminum langsung. Tidak cukup sampai di situ, diberi pula pohon kurma. Allah menyuruh goncang-goncangkan saja, maka berjatuhan ruthob.

Para dokter dan para ahli dari kalangan muslim semestinya tergerak untuk meneliti ayat-ayat ini. Islam memiliki kitab suci yang banyak memberi tantangan untuk diteliti. Seperti, apa hubungannya ruthob dengan kehamilan? Apa hubungannya air sungai dengan kehamilan, yg tak sekedar bisa diminum airnya tp suara gemericiknya apakah ada hubungannya dengan menghilangkan kesedihan Maryam? Suara air apakah memberi efek menenangkan?

Lalu apa hubungannya menggoncang-goncangkan pohon kurma dengan kehamilan? Ini sebenarnya membuka peluang untuk para dokter supaya diteliti, bukan untuk ditertawakan. Karena ada sebagian muslim di luar sana yang menertawakan kalimat "menggoyang-goyang pohon kurma" sebagai bahan olok-olok dan becandaan ketika sebagian yang di sini berupaya menggali konsep persalinan dalam Islam. Mereka menganggap kita menyuruh ibu hamil untuk melahirkan di bawah pohon kurma. Subhanallaah...semoga Allah membukakan pikiran kita dan menjauhkan dari kekakuan berpikir.

Terkait mengguncang-guncang pohon kurma ini, ada penjelasan menarik dari para ahli agama yang memancing nalar kita untuk berpikir sekaligus merenung, apa di balik hikmah mengguncang-guncangkan pohon kurma.

Mari kita bayangkan sejenak kondisi Maryam ketika disuruh menggoyangkan pohon kurma. Saat itu Maryam sudah memasuki masa persalinan yang ditandai dengan kontraksi sebelum melahirkan. Coba kita berpikir, kondisi kontraksi yang menguras emosi dan tenaga, disuruh mengguncangkan pohon kurma? Secara logika, bisa jatuh kah buahnya? Pernah lihat pohon kurma? Silakan lihat gambar. Pohon kurma memiliki batang yang sangat kokoh dan kuat, akarnya menghunjam ke tanah. Lalu bayangkan kita disuruh mengguncangkan. Jangankan perempuan, laki-laki saja susah untuk menggoyangkan pohon kurma.

Jadi apa maknanya? Inilah gambaran tentang TAWAKKAL. Para ulama ketika menggambarkan tentang tawakkal sering menggunakan contoh dalam ayat ini. Apa maksudnya? Maksudnya, manusia itu yang paling penting BERUSAHA dulu. Percaya sama yang Allah perintahkan, Allah akan tolong. Kalau urusan mustahil, ini memang mustahil. Hendak diguncang sekuat apa, tidak mungkin tenaga manusia sanggup membuat jatuh buahnya. Tapi di situlah letak tawakkalnya. Ketika diperintah Allah, jangan berpikir tentang mustahilnya. Kerjakan aja. Dan ternyata kemudian seperti yang kita ketahui kurmanya pun jatuh. Dari situ kemudian Allah berkata: Maryam, makanlah buahnya, minumlah airnya, dan bersenang hatilah.

Ma sya Allah...

Tidakkah ini menggerakkan para ahli untuk menelitinya?

Apa hubungannya makan ruthob, minum air, dengan bersenang hati? Seberapa pentingkah membuat ibu hamil itu bersenang hati? Apakah ada pengaruhnya suasana hati dengan proses persalinan?

Bagaimana dengan posisi kita berdiri misalnya ketika akan menggoyangkan pohon kurma? Apakah ada kaitannya posisi itu dengan teknik mempermudah pembukaan jalan lahir? Ini adalah ruang terbuka bagi para ahli di bidang kandungan untuk meneliti hal ini.

Mungkin bagi beberapa tenaga kesehatan, gerakan mengguncang pohon kurma terlihat menggelikan bila harus dikaitkan dengan proses persalinan. Apalagi tidak ada EBM (evidence based medicine) yang biasa menjadi rujukan pada tenaga medis. Namun perlu diingat, ini Al Qur'an yang bicara kehamilan, artinya hamil bukanlah suatu yang biasa. Tapi itu hal yang luar biasa.

Terkhusus para suami yang istrinya sedang hamil, hendaknya bahasan ini menjadi catatan penting dalam mendampingi istrinya agar memperhatikan kondisi istri yang sedang hamil tak hanya dari segi fisik atau asupan nutrisinya, tapi juga kondisi psikis. Terutama menjelang dan di saat proses persalinan berlangsung. Ada hubungan yang signifikan antara kondisi psikis dengan pembukaan jalan lahir. Ibu yang kondisi psikisnya kurang baik,stress, tegang, panik, beresiko pembukaannya tidak menambah, malah bisa menutup kembali. Hal ini tentu menambah peluang bagi masuknya intervensi medis yang tidak perlu jika saja para suami bisa lebih maksimal menjaga kondisi psikis istrinya.

Mari, tadabbur ayat-ayat Qur’an tentang kehamilan. Buatlah momen hamil dan bersalin menjadi momen yang nyaman dan membahagiakan. Karena di ujung prosesnya, telah menanti sang penerus generasi yang akan memajukan peradaban Islam.

Read other articles & publications:
APA BEDANYA THUHR, NAQOO', DAN FATROH DALAM FIQIH HAID?
Oleh : Ustadz Muafa (Mokhamad Rohma Rozik...
SEMUA IBU BISA MENYUSUI, IN SYA ALLAH
Oleh : Bunda Arit Widowati, Konselor Lakta...
JODOH PERSALINAN
Bundanya adek bayi ini baru datang di usia...