MAKE A RESERVATION
Home > Articles & Publication > MANFAAT MENYUSUI BAGI IBU

MANFAAT MENYUSUI BAGI IBU

by. Admin
03 August 2017
MANFAAT MENYUSUI BAGI IBU

Banyak sudah yang menyadari manfaat ASI bagi bayi, sedangkan manfaat untuk ibu sering diabaikan atau bahkan tidak diketahui. Seperti efek oxytocin pada rahim yang memberikan kehangatan emosional sehingga dengan menyusui ibu memiliki banyak alasan untuk bahagia dengan pilihannya.

Salah satu rahasia yang tersimpan dengan baik selama ini adalah menyusui dapat menyehatkan baik bagi ibu dan juga bayi. Menyusui bukanlah sekedar proses fisiologis alami sebagai kelanjutan dari pembuahan dan kehamilan, tetapi juga memberikan banyak manfaat kesehatan baik jangka pendek dan jangka panjang. Wacana ini jarang ditekankan dalam konseling pra-persalinan oleh para tenaga kesehatan profesional dan sebagainya, tapi juga terabaikan dalam literatur pengasuhan populer. Mari kita semua lihat manfaat menyusui bagi ibu dan mengapa begitu sedikit yang mengetahuinya.

Efekfisiologis Menyusui

(1) Segera setelah lahir, hisapan bayi yang berulang dapat melepaskan oksitosin dari kelenjar hipofisis ibu. Hormon ini tidak hanya berfungsi sebagai sinyal bagi payudara untuk melepaskan ASI ke bayi (dikenalsebagai ejeksi refleks susu, atau "let-down-reflect”), tetapi sekaligus menimbulkan kontraksi pada rahim. Kontraksi yang ditimbulkan dapat mencegah perdarahan postpartum dan merangsang involusi/penyempitan rahim (kembali kekeadaan tidak hamil).

(2) Ibu yang tidak menyusui seringnya diberikan oksitosin sintetik saat melahirkan melalui jalur intravena, akan tapi setelah itu untuk beberapa hari ke depan, saat mereka berada pada risiko tertinggi perdarahan postpartum, bergantung pada kondisi tubuh mereka sendiri. Selama ibu menyusui langsung tanpa tambahan/diganti dengan susu formula, MPASI, atau alat pembantu hisap pada payudara, maka pengembalian periode menstruasinya akan tertunda (Lawrence dan Lawrence 1999). Tidak seperti ibu yang memberikan sufor, yang biasanya mendapatkan menstruasi kembali dalam waktu enam sampai delapan minggu, ibu menyusui seringnya berada dalam kondisi amenorrhea (tidak menstruasi) untuk beberapa bulan. Kondisi ini memberikan manfaat penting dalam menjaga kandungan zat besi dalam tubuh ibu dan sering kali dapat menjaga jarak kehamilan secara alami.

Jumlah zat besi dalam tubuh ibu yang digunakan dalam produksi ASI jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah zat besi yang hilang selama menstruasi. Efek baiknya adalah terjadinya penurunan risiko anemia (defisiensi zat besi) pada ibu menyusui dibandingkan dengan ibu yang memberikan susu formula. Semakin lama para ibu menyusui dan membuat menstruasinya tertunda, maka semakin kuat efek ini berlangsung (Institute of Medicine 1991).

(3) Sedangkan untuk masalah kesuburan, metode amenorrhea laktasi (LAM) adalah metode kontrasepsi yang terpercaya dengan baik dengan kemungkinan 98 sampai 99 persen dapat mencegah kehamilan pada enam bulan pertama setelah melahirkan.
Jarak alami kehamilan yang dicapai melalui LAM dapat menjamin kelangsungan hidup yang optimal bagi setiap anak yang dilahirkan dan juga pemulihan fisik ibu antar kehamilan. Sebaliknya, ibu yang tidak menyusui perlu segera memulai kontrasepsi dalam waktu enam minggu setelah kelahiran (Kennedy 1989).


Manfaat Jangka Panjang Menyusui

(1) Sejumlah penelitian telah menunjukkan manfaat kesehatan potensial lain yang diperoleh ibu melalui menyusui. Hal ini termasuk profil metabolisme tubuh yang optimal, mengurangi risiko berbagai jenis kanker, dan manfaat psikologis.

Produksi ASI adalah proses metabolisme aktif, membutuhkan penggunaan rata-rata 200 hingga 500 kalori per hari. Untuk membakar kalori sebanyak ini, seorang ibu yang tidak menyusui (memberikan sufor) harus berenang minimal 30 lap di kolam renang atau menanjak sepeda selama satu jam setiap hari. Jelas, ibu menyusui memiliki keunggulan pada penurunan berat badan yang diperolehnya selama kehamilan. Penelitian telah menegaskan bahwa ibu yang tidak menyusui mengalami penurunan berat badan yang kurang dan tidak berlanjut dibandingkan penurunan berat badan yang dialami ibu yang menyusui (Brewer 1989).

Temuan di atas sangat penting bagi ibu-ibu yang telah menderita diabetes selama kehamilan mereka. Setelah melahirkan, ibu yang menyusui dengan riwayat diabetes gestasional memiliki tingkat gula darah yang rendah daripada ibu yg tidak menyusui (Kjos 1993). Bagi wanita yang sudah mengalami peningkatan risiko diabetes, penurunan berat badan yang optimal dari menyusui dapat diartikan sebagai penurunan risiko diabetes di kemudian hari.

Wanita dengan diabetes tipe I selama kehamilan cenderung membutuhkan lebih sedikit insulin ketika mereka sudah menyusui karena penurunan kadar gula darahnya. Ibu menyusui cenderung memiliki kolesterol HDL yang tinggi (Oyer 1989). Penurunan berat badan yang optimal, meningkatnya kontrol gula darah, dan profil kolesterol baik yang ditimbulkan selama menyusui, pada akhirnya akan dapat menurunkan risiko penyakit jantung. Hal ini sangat penting karena serangan jantung adalah penyebab utama kematian pada wanita.

(2) Elemen penting lainnya yang digunakan tubuh ibu dalam memproduksi ASI adalah kalsium. Karena Ibu kehilangan kalsium selama menyusui, beberapa ahli kesehatan telah melakukan kekeliruan dengan menganggap bahwa terjadi peningkatan risiko osteoporosis bagi wanita yang sedang menyusui. Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa setelah masa penyapihan, kepadatan tulang ibu menyusui kembali ke kadar sebelum kehamilan atau bahkan lebih tinggi tingkatnya (Sowers 1995). Dalam jangka panjang, sebenarnya menyusui justru dapat menghasilkan tulang yang lebih kuat dan mengurangi risiko osteoporosis. Pada kenyataannya, studi terbaru telah membuktikan bahwa wanita yang tidak menyusui memiliki risiko lebih tinggi terjadinya patah tulang pinggul setelah menopause (Cummings 1993).(3) Ibu yang tidak menyusui telah terbukti dalam beberapa penelitian memiliki risiko lebih tinggi mengalami kanker reproduksi. Kanker ovarium dan rahim ditemukan lebih umum terjadi pada wanita yang tidak menyusui. Hal ini mungkin disebabkan oleh siklus ovulasi yang berulang dan paparan tingkat estrogen yang lebih tinggi karena tidak menyusui. Meskipun berbagai penelitian telah menunjukkan hubungan antara menyusui dan kanker payudara, hasilnya tampak bertentangan. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh kelemahan dalam desain penelitian dan kurangnya definisi yang seragam tentang pengertian menyusui, mengakibatkan kesulitan dalam membandingkan data. (Dalam beberapa penelitian, menyusui didefinisikan sebagai menyusui setidaknya sekali sehari, sementara di penelitian lain didefinisikan sebagai pemberianASI eksklusif, tidak menggunakan suplemen atau puting buatan). Meskipun demikian, sekarang ini diperkirakan bahwa menyusui sejak anak enam sampai 24 bulan selama masa reproduksi ibu dapat mengurangi risiko kanker payudara sebesar 11 hingga 25 persen (Lyde1989; Newcomb 1994). Fenomena ini juga mungkin karena proses ovulasi ditekan dan estrogen rendah,tetapi efek lokal yang berkaitan dengan fungsi fisiologis payudara yang normal juga mungkin terlibat. Ini berdasarkan sebuah studi di mana ibu-ibu yang menyusui secara tradisional hanya pada satu sisi payudara memiliki tingkat terjadinya kanker yang signifikan tinggi pada payudara yang tidak disusukan (Ing, Ho, dan Petrakis 1977).

Dalam dua studi, tampak ada peningkatan tajam terjadinya rheumatoid arthritis (penyakit jangka panjang yang mengarah ke peradangan pada sendi dan jaringan) pada ibu menyusui (Jorgensen, 1996; Brenna 1994). Namun, dalam studi lain, ternyata tingkat keparahan keseluruhan dan mortalitas dari rheumatoid arthritis ini lebih buruk terjadi pada wanita yang tidak pernah menyusui (Brun, Nilson, dan Kvale 1995). Sejauh ini belum ada penelitian lain yang menunjukkan efek kesehatan yang merugikan bagi wanita karena menyusui. Intinya: Menyusui mengurangi faktor risiko tiga penyakit yang paling serius bagi wanita (kanker yang menimpa wanita, penyakit jantung, dan osteoporosis) tanpa risiko kesehatan yang berarti.

Masalah psikologis pada Ibu Menyusui

Bagaimanakah kita mengukur ketenangan pikiran ketika memiliki bayi yang sehat dan berkembang secara optimal? Di manakah kita letakkan faktor beban keuangan atas harga susu formula dan meningkatnya biaya medis?

Lembaga kesehatan masyarakat telah mengadvokasi untuk kampanye menyusui karena manfaat kesehatan untuk bayi yang telah terdokumentasi dengan baik, tetapi masih gagal untuk menyampaikan kepada para ibu dan keluarganya mengenai potensi dari dampak emosional hal ini yang sangat penting dalam membuat keputusan pemberian makanan bayi. Dalam masyarakat Barat, keputusan untuk menyusui atau memberikan susu botol kebanyakan merupakan pilihan pribadi berdasarkan kenyamanan. Potensi tekanan hidup dengan seorang anak yang sering sakit, atau hilangnya ikatan unik yang berasal dari menyusui, sering dihilangkan dari pertimbangan pengambilan keputusan.

Ada banyak lagi pertimbangan untuk menyusui dalam menyediakan nutrisi yang optimal dan perlindungan dari penyakit melalui ASI. Menyusui memberikan interaksi yang unik antara ibu dan anak, secara otomatis, kedekatan kulit-ke-kulit dan bagi seorang ibu yang memberikan susu buatan harus berusaha lebih keras untuk menirunya. Hisapan bayi pada payudara menghasilkan kondisi hormonal yang special pada ibu. Prolaktin, hormon pembuat ASI, menghasilkan ketenangan khusus dalam diri ibu. Ibu menyusui telah terbukti memiliki respon intens rendah pada adrenalin (Altemus 1995). Efek menenangkan ini sulit untuk diukur pada sebagian besar masyarakat yang belum mendukung ibu menyusui seperti Amerika Serikat, di mana menyusui selama minggu-minggu awal bukanlah sesuatu yang normal. Para Ibu yang berusaha untuk menyusui dalam lingkungan seperti ini sering mengalami masalah fisikal dan emosional. Permasalahan ini akibat dari kurangnya sosok teladan dalam keluarga dan teman, dan diperparah oleh mudahnya mendapatkan susu buatan dan kurangnya akses ke perawatan kesehatan profesional yang cukup pengetahuan dan mendukung untuk menyusui.

Bahkan jika seorang ibu berusaha mengatasi masalah fisiknya, dia mungkin masih harus menghadapi komentar negatif seperti "Apakah Anda masih menyusui?" atau "ASI Anda mungkin tidak mencukupi-kenapa Anda tidak menambahkan susu formula?" Atau atasan/majikannya membuatnya tidak mungkin untuk terus memberikan ASI ketika kembali bekerja. Atau dia mungkin merasa terganggu ketika harus menyusui di depan umum. Tidak heran jika hanya sedikit ibu yang bisa sepenuhnya merasakan efek ketenangan dari menyusui. Menjadi Ibu baru adalah masa yang penuh dengan emosi. Baby blues umum terjadi, sering diperburuk dengan kurangnya dukungan dan rasa terasing/sendiri. Peran menyusui dalam pergolakan emosi pasca melahirkan belum diteliti dengan baik, tetapi ibu menyusui dengan depresi memerlukan pengobatan seperti halnya ibu lainnya. Masalah tersebut merupakan tantangan unik bagi para perawatan kesehatan profesional. Karena obat kemungkinan dapat masuk ke dalam ASI, banyak dokter percaya bahwa solusi paling aman adalah dengan menyapih anak. Namun, dalam banyak kasus depresi, para ibu dapat melewatinya lebih baik jika mereka terus menyusui. Sayangnya, terlalu sering dokter bersikeras agar si ibu menyapih anaknya dan menggunakan obat-obatan anti depresan.

Sebuah tinjauan literatur, bagaimanapun telah menunjukkan bahwa beberapa anti depresan, jikapun ada menimbulkan risiko yang minimal pada anak yang menyusu. Seorang ibu yang merasa bahwa hubungan penyusuan dengan anaknya adalah satu-satunya hal yang paling benar dalam hidupnya, dapat terus menyusui selama menggunakan obat-obatan yang sesuai untuk depresinya.

Mengapa Tidak Lebih Banyak Orang Tahu Bagaimana Bagusnya Menyusui?

Jelas, menyusui baik untuk ibu baik secara fisik maupun emosional. Namun, banyak ibu memutuskan untuk menyusui hanya berdasarkan manfaat bagi bayi. Menyusui dalam konteks masyarakat pengguna susu botol cenderung dianggap sebagai nyaman dan tidak nyaman.

Seringkali, ibu memandang bahwa menyusui sebagai martir untuk mempertahankan kesehatan bayi mereka. Jika mereka berhenti menyusui lebih awal, mereka mungkin merasa bersalah karena merampas hak bayi atas manfaat kesehatannya, tetapi kesalahan ini sering ditenangkan oleh orang-orang yang bermaksud baik yang meyakinkan mereka bahwa "Bayi juga akan baik-baik saja dengan susu formula." Mungkin jika para ibu tahu bahwa dengan terus menyusui juga baik untuk kesehatan mereka sendiri, beberapa ibu mungkin tidak akan menyerah ketika mereka mengalami masalah.

Banyak ibu tidak diberitahu bahwa menyusui baik untuk kesehatan mereka. Entah karena ketidaktahuan atau karena pengaruh industri susu buatan, banyak penyedia layanan kesehatan gagal menginformasikan fakta-fakta ini. Sudah waktunya rahasia yang tersimpan ini dikeluarkan. Sebagaimana kalimat yang tersebar tentang fakta-fakta yang sedikit diketahui ini, akan lebih banyak ibu yang tidak hanya memilih untuk menyusui sebentar karena memberikan perlindungan penyakit dini untuk bayi mereka, tetapi akan terus melanjutkan menyusui, mengupayakan hasil yang optimal baik bagi anak-anak mereka dan bagi dirinya sendiri.

Terjemahan bebas dari artikel :

A Well-Kept Secret
Breastfeeding's Benefits to Mothers

Alicia Dermer, MD, IBCLC
Old Bridge NJ USA
From: NEW BEGINNINGS, Vol. 18 No. 4, July-August 2001, p. 124-127

Read other articles & publications:
MEMAKNAI RASA SAKIT SAAT MELAHIRKAN
Topik persalinan yang paling menarik dari ...
ES KRIM UNTUK BUMIL, BOLEHKAH?
Oleh : Bidan Wina Beberapa...
JANGAN SALAHKAN HPL
Oleh : Bidan Wina, Owner Klinik Papilio Na...