MAKE A RESERVATION
Home > Articles & Publication > DI BALIK PERINTAH PENYUSUAN

DI BALIK PERINTAH PENYUSUAN

by. Admin
27 February 2022
DI BALIK PERINTAH PENYUSUAN

Kisah hukum rajam terhadap seorang wanita dari Bani Ghamidiyah yang mengaku berzina yang ditangguhkan pelaksanaannya hingga ia selesai menyapih anaknya menyisakan satu perenungan. Mengapa Rasulullah memerintahkan penangguhan hukuman hingga selesai menyapih? Mengapa tidak mencarikan ibu susuan bagi anak itu? Ada hikmah apakah di balik itu?

Alhamdulillah kami berkesempatan menanyakan hal ini ke salah satu guru kami yang memiliki ilmu seputar siroh nabawiyyah. Penjelasan beliau memberi pemahaman baru dalam memandang perintah penyusuan dalam Al Qur'an.

Jawaban guru kami, hikmah dari perintah Rasulullah untuk menyelesaikan penyusuan bayi pada wanita yang hendak dihukum rajam tersebut menunjukkan WAJIBnya tugas menyusui oleh seorang ibu. Ini tentang kewajiban seorang perempuan sebagai individu, sebagai seorang ibu. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberi kesempatan pada wanita tersebut untuk menuntaskan kewajibannya sebagai individu. Bukan sekedar pemenuhan hak seorang bayi atas ASI. Karena, jika yang dimaksudkan dalam perintah penyusuan adalah sekedar bicara tentang hak bayi, maka pemenuhan hak itu bisa dari mana saja. Jikalau tidak ada kewajiban pada sang ibu, tinggal dicarikan ibu susuan, selesai. Dan di masa itu tentu bukan hal sulit mencari ibu susu bagi seorang bayi. Tapi ternyata tidak demikian. Perintah tersebut juga menyangkut perintah kepada seorang wanita yang memiliki beban syariat secara individu. Bahkan guru kami menekankan WAJIBnya menyusui ini bagi seorang wanita setingkat di bawah wajibnya sholat fardlu.

Selama seorang ibu tidak memiliki kendala yang benar-benar menghalanginya dari menyusui, maka dia wajib menuntaskan tugas penyusuan tersebut. Dan orang-orang di sekitarnya, keluarga, kerabat, teman, tetangga, masyarakat, hendaknya bersikap aktif membantu melancarkan proses ini. Memfasilitasi, memudahkan, dan mendampingi secara optimal. Jangan biarkan seorang ibu berjuang sendiri. Karena tugas ini bukan tugas yang mudah bagi sebagian ibu. Terutama para suami hendaknya menjadi sosok yang paling sigap. Merekalah yang semestinya memastikan istrinya bisa lancar menyusui. Jika ASI istrinya tidak lancar, hibur dia, semangati hatinya, lantunkan doa-doa terbaik baginya. Karena hormon oksitosin akan keluar jika perasaan si ibu happy. Atau carikan konselor laktasi jika ada kendala, agar bisa menyusui dengan ilmu. Ajak konsultasi. Jangan dibiarkan mengatasi sendiri masalahnya. Jika diketahui sumber kendalanya, akan mudah mencari solusinya.

Semoga penjelasan di atas menambah semangat dan keyakinan para ibu agar terus berjuang pantang menyerah menuntaskan tugas yang Allah embankan padanya.

Barokallohu fiikum

-Admin-

Read other articles & publications:
MEMAKNAI RASA SAKIT SAAT MELAHIRKAN
Topik persalinan yang paling menarik dari ...
ES KRIM UNTUK BUMIL, BOLEHKAH?
Oleh : Bidan Wina Beberapa...
JANGAN SALAHKAN HPL
Oleh : Bidan Wina, Owner Klinik Papilio Na...