MAKE A RESERVATION
Home > Articles & Publication > AJARKAN PENDIDIKAN SEKS SECARA TEPAT SEJAK DINI

AJARKAN PENDIDIKAN SEKS SECARA TEPAT SEJAK DINI

by. Admin
13 December 2021
AJARKAN PENDIDIKAN SEKS SECARA TEPAT SEJAK DINI

Perbincangan tentang seksualitas agaknya masih menjadi tabu bagi kita. Topik-topik tentang itu kerap dihindari dan dijaga agar tetap menjadi rahasia, terutama dari anak-anak. Maka tak jarang, ketika anak bertanyatentang seksualitas, orangtua risih sehingga enggan memenuhi keingintahuan anak. Tepatkah menjauhkan anak dari pengetahuan seks?

Syahwat seksual merupakan salah satu bagian dari fitrah manusia. Ada 3 jenis naluri (al- gharaiz) yang terdapat dalam diri manusia dan menuntut pemenuhan:
1. Naluri untuk mempertahankan eksistensi diri (gharizah baqa')
2. Naluri untuk menyucikan sesuatu (gharizah tadayyun)
3. Naluri untuk melanjutkan keturunan (gharizah nau')

Islam memandang seks sebagai gharizah nau', menjadi fitrah manusia. Pemenuhan kebutuhan ini telah diatur sedemlkian rupa agar ia tetap dalam koridor yang tepat, tidak keluar jalur apalagi sampai menimbulkan kerusakan. Melalui Al Qur'an dan As-Sunnah, kita memiliki tuntunan yang lengkap tentang pengendalian dan penguasaan seksual, termasuk pendidikan seks sejak dini pada anak.

Menurut Ustadzah lr. Mahbubah, pendidikan seks sebetulnya istilah yang baru muncul belakangan ketika masyarakat modern menghadapl dekadensi moral, rusaknya pergaulan, dan kaburnya batas norma kesopanan. Pendidikan seks sejak dini dianggap sebagai usaha preventif untuk menghadapi masala-masalah sosial ini.
"Padahal dalam ajaran islam, pendidikan seks terintegrasi dengan penanaman nilai yang utuh bahkan sejak anak itu lahir. Bagaimana kita menanamkan nilai keimanan, akhlak dan ketaatan pada Allah", jelas daiyah yang aktif rnengisi pengajian, mengajar homeschooling dan menerjemahkan buku-buku bahasa Arab ini.

TUNTUNAN ISLAM

Syeikh Abdullah Nashih Ulwan dalam bukunya Tarbiyatul Aulad fil lslam, mendefinisikan pendidlkan seksual sebagai pengajaran, penyadaran, dan penerangan kepada anak sejak ia mulai memikirkan masalah-masalah seksual, hasrat, dan pernikahan. Dengan demikian, saat anak tumbuh dewasa, ia telah memahami kehalalan dan keharaman.

Hal pertama yang perlu ditanamkan sejak dini adalah pemahaman tentang aurat dan kewajiban menutupnya. Tujuannya menumbuhkan rasa malu pada anak sehingga mereka terbiasa menjaga aurat dan menundukkan pandangan. Anak juga harus memahaml hakikat mahram agar dapat membatasi pergaulan dengan orang yang bukan mahramnya.
"Ini juga salah satu bagian terpenting dikenalkannya orang-orang yang haram dinikahi, karena islam dengan tegas mengharamkan perkawinan sedarah", tegas perempuan yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir ini.

Memberi pemahaman mengenai maskulinitas pada anak lelaki dan feminitas pada anak perempuan, juga merupakan bagian dari pendidikan seks dini. Jika anak sudah memahami identitas jenis kelaminnya, kita bisa memberikan pemahaman tentang larangan ikhtilat dan khalwat dalam Islam.

lkhtilat yaitu bercampurnya laki-laki dan wanita bukan mahram tanpa adanya keperluan yang dibolehkan syari'at. Khalwat adalah manakala seorang perempuan dan lelaki bukan mahram berada di suatu tempat, berdua saja. Kedua hal ini bisa mengantarkan pada zlna.

Pendampingan orangtua sangat diperlukan ketika anak mengalami pubertas. Di masa ini, anak perempuan mengalami haid sebagai tanda kedewasaan, sedangkan anak lelaki mengalami ihtilam (mimpi basah). Selain mengajarkan tentang adab bersuci, orangtua juga wajib mengenalkan tentang kewajiban- kewajiban anak setelah aqil baligh.

TERAPKAN KEBIASAAN

Ada beberapa kebiasaan yang perlu diterapkan pada anak agar mereka memahami pendidikan seks dini.

Pertama, membiasakan anak mengenakan pakaian yang menutup aurat sejak kecil. "Saat ini sudah banyak ibu yang memakaikan busana muslimah kepada putrinya, itu salah satu bentuk pendidikan yang baik", kata Ustadzah Mahbubah.

Selanjutnya, membiasakan anak memlnta izin sebelum masuk ke kamar orang dewasa dalam tiga waktu : Sebelum shalat subuh, tengah hari dan setelah Shalat Isya'.

Rasulullah juga memerintahkan untuk memisahkan tempat tidur anak lelaki dan perempuan jika sudah berusia 7-10 tahun. Hal ini penting agar mereka terbiasa menjaga auratnya dari lawan jenis, sekalipun itu keluarganya.
Anak yang telah mengalami masa pubertas sudah harus memahami adab bersuci (thaharah) untuk menjaga kebersihan dan kesucian tubuh dari najis. Etika berhias juga penting diajarkan, khususnya pada anak perempuan.

Berhias adalah usaha mempercantik diri agar penampilan enak dilihat. Hal ini dibolehkan dalam Islam, hanya ada aturan agar berhias tidak dilakukan secara berlebihan sehingga lidak memancing fitnah dan perbuatan maksiat.

Demikianlah Islam mengajarkan pendidikan seks, integral dengan pendidikan aqidah dan keimanan yang juga harus diajarkan sejak dini. Jika akhlakul karimah sudah menjadi kebiasaan hidup, insyaAllah anak-anak akan terhindar dari pergaulan bebas serta perilaku yang diperbudak syahwat seksuaI.

Waspadai dua hal ini:
* Orang-orang terdekat
Dari sekian banyak kasus kekerasan seksual pada anak, banyak pelaku yang merupakan orang dekat korban. Waspadai orang-orang terdekat seperti tetangga, teman, orang di sekolah, bahkan anggota keluarga sendiri. Ajarkan anak agar tegas menolak jika ada yang memegang bagian-bagian tertentu tubuhnya, dan biasakan anak untuk terbuka bercerita tentang apa pun.
* Media
Media informasi, seperti internet dan televisi, tanpa kita sadari merupakan penyebar pornografi paling cepat dan luas. Berikan anak batas waktu dalam mengaksesnya, jangan biarkan mereka terlalu lama di depan monitor. Letakkan di tempat strategis agak bisa terpantau.

Bicara seks apakah selalu terkait dengan hubungan seks? Ternyata tidak. Seks menurut KBBI artinya jenis kelamin atau segala hal yang berhubungan dengan jenis kelamin. Artinya memberikan pemahaman yang benar tentang seks kepada anak tidak mesti membicarakan seputar hubungan paling pribadi suami istri. Namun lebih kepada menanamkan masalah perbedaan jenis kelamin lelaki dan perempuan pada porsi yang benar, sehat, aman dan sesuai dengan norma yang berlaku, serta konsekuensinya jika disalahgunakan.

PENDIDIKAN SEKS MAKIN DARURAT

Mengapa semakin dewasa begitu penting memberikan landasan pengetahuan seks untuk anak? Bukankah dulu kita mengetahuinya secara alami saja? Zaman orangtua dulu jauh berbeda dengan zaman sekarang. Dulu tidak ada paparan negatif internet dan media pengantar informasi seks bebas yang mengempur kita. Pengaruh buruk teman sebaya dan kejahatanseksual pun tidak sehebat sekarang. Maka akan sangat berbahaya jika orangtua menyikapi pendidikan seks saat ini sama dengan yang diterimanya 30 tahun lalu.

Jika Komnas Perlindungan Anak menyatakan 62,7% rernaja di Indonesia pernah melakukan hubungan layaknya suami istri, tentu orangtua tidak bisa abai lagi terhadap tanggung jawab pendidikan seks untuk anak-anaknya, apalagi diserahkan begitu saja ke orang lain.

Lalu kapan waktu paling dini mengajarkan pendidikan seks ini? Menurut psikolog Vera ltabiliana, Psi, sejak usia 2-3 tahun anak sudah bisa diajarkan pendidikan seks. Pada usia itu anak sudah mngerti organ tubuhnya dan senang menanyakan hal-hal terkait diri dan sekitarnya.

Semakin dini anak memperoleh pendidikan seks, tugas orangtua akan semakin ringan untuk membentengi anak dari pengaruh negatif seks bebas dan pornografi. Dengan sendirinya, anak akan terbiasa mengatur pola pikir dan perilakunya sesuai dengan didikan orangtuanya sejak kecil. Lain halnya jika pola 'tidak punya batasan'terhadap masalah seks sudah permanen hingga remaja, orangtua tentu akan sangat kerepotan meluruskannya.

Namun, sebagaimana pendidikan dan pengasuhan dalam banyak hal, tidak ada cara paling cepat untuk memberi pemahaman tentang seks yang benar pada anak. Semua harus dilakukan bertahap sesuai dengan usia, dari hal yang sangat sederhana tentunya. Misalnya mengajarkan perbedaan dan fungsi organ tubuh anak lelaki dan perempuan serta cara membersihkannya, larangan berpelukan atau bergandengan dengan lawan jenis, bagaimana menjaga diri dari kejahatan seksual. Itu semua hanya bagian kecil dari pendidikan seks yang diperlukan anak, yang pastinya jauh dari asosiasi yang membuat risih atau memalukan.

SINERGI PERAN AYAH & IBU

Menurut Vera, ayah dan ibu punya tanggung jawab sama atas pendidikan seks untuk anak.
"Namun dalam beberapa hal, ada peran-peran yang lebih dominan diambil oleh salah satu orang tua. Misalnya bicara lebih mendalam tentang menstruasi dengan ibu, sedangkan porsi menjelaskan apa dan bagaimana mimpi basah ada pada ayah".
Akan tetapi semua bisa dibuat fleksibel. Bukan berarti anak perempuan harus lebih dekat ke ibu, dan anak lelaki ke ayah. Yang terpenting, apa kontribusi yang paling bisa dilakukan orangtua.

Jika pengasuhan dan pendidikan anak biasanya dibebankan pada ibu, kini para ayah juga dituntut banyak berperan dalam pendidikan seks anak-anaknya. Penelitian psikologi terbaru menyimpulkan bahwa kedekatan ayah yang harmonis dengan anak perempuannya dapat menyelamatkan anak dari jerat seks pranikah.

Dari mana lagi seorang anak perempuan mengenal model pria pertama selain ayahnya? Ketika sang Ayah memperlakukannya sebagai anak perempuan yang baik, menghargainya dengan tulus, anak akan memperoleh identitas seksual yang baik pula sebagai perempuan. la bangga terlahir sebagai kaum hawa karena penghargaan ayahnya. Jika demikian, ia pun tak akan menyia-nyiakan kepercayaan ayah yang mencintainya, misalnya dengan perilaku menyimpang demi kesenangan sesaat.

Cinta dan kasih sayang ayah yang cukup membuat anak perempuan tidak mudah takluk pada rayuan lelaki hidung belang, atau sibuk tebar pesona mencari perhatian sembarang Ielaki. la tak kekurangan cinta Ielaki dan punya standar jelas bahwa pria yang baik adalah seperti ayahnya. Inilah pengasuhan ideal yang membentuk karakter seksual yang baik bagi anak perempuan.

Anak lelaki malah mempunyai kebutuhan lebih banyak akan ayahnya dibanding perempuan. Mereka membutuhkan figur teladan yang mampu memberi batasan pada perilaku seksualnya. Dari ayahnya, anak lelaki belajar menjadi pria dewasa yang bertanggung jawab mengayomi keluarga, juga menghormati dan rnemuliakan perempuan terutama ibunya.

TAK ADA KATA TERLAMBAT

Ketika anak telanjur dewasa, tapi orangtua merasa belum banyak membekali pendidikan seks yang benar, dikatakan Vera, tidak ada kata terlambat. Hanya mungkin pengajarannya jauh lebih berat dibandingkan jika 'dicicil' sejak dini.

Kesungguhan orangtua untuk meluruskan perilaku seksual anak yang telanjur menyimpang, diiringi do'a penuh pengharapan, tentu akan memberikan hasil bagi kematangan jiwa anak. Di sini membutuhkan kesiapan orang tua untuk menerapkan beberapa komitmen penting dalam rneluruskan perilaku yang menyimpang. Yaitu, kasih sayang di antara seluruh anggota keluarga, konsekuen pada apa yang sudah ditetapkan, konsisten menerapkan kebiasaan, dan sesekali terbuka peluang kompromi yang memberi rasa keadilan bagi anak.

Lambat laun, tutur Vera, penanaman tentang seks yang benar akan terlihat pada perilaku anak yang lebih terbuka berbicara tentang masalah seksual pada orangtuanya, terutama ketika ada yang meresahkannya. Anak juga lebih tahu konsekuensi dari penyalahgunaan perilaku seks, serta mampu menjaga dirinya.

- Dikutip dari Majalah Ummi Edisi 05 Mei 2013
- Nara sumber : Ustadzah Ir. Mahbubah dan Vera Itabiliana, Psi.
- Grup Tanya ASI for Thinker Parents

Read other articles & publications:
MEMAKNAI RASA SAKIT SAAT MELAHIRKAN
Topik persalinan yang paling menarik dari ...
ES KRIM UNTUK BUMIL, BOLEHKAH?
Oleh : Bidan Wina Beberapa...
JANGAN SALAHKAN HPL
Oleh : Bidan Wina, Owner Klinik Papilio Na...